Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

10 February 2012, 02:05:07 PM

Ahlan wa sahlan, bagi pengunjung bisa mendaftar di sini, manfaatkan fasilitas Forum Alilmu untuk menjalin ukhuwah dengan ikhwah dari berbagai daerah, mari berbagi faedah dan saling menasehati di atas sunnah. Masih banyak tema diskusi menarik lainnya di dalam forum setelah antum login nanti.


Pages: [1]   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: ahklak dan adab dalam perbedaaan definisi  (Read 3312 times)
0 Members and 2 Guests are viewing this topic.
abukhalid alsamurai
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 7


« on: 04 December 2009, 08:25:00 AM »

بسم الله الرحمن الرحيم

apa itu AHKLAK ?
apa itu ADAB ?

banyak memahami ahklak itu ada perilaku seperti seseorang berbuat kasar,perkataan kotor atau berbentuk sesuatu perilaku yang tidak menyenangkan hati bagi orang bergaul padanya.

padahal ULAMA SALAF terkadang memamahi AHKLAK itu termasuk bagian dari AKIDAH.
jadi jika seorang AHLU SUNNAH di tuduh AHKLAKnya tidak baik maka tuduhan itu termasuk nenuduh AKIDAHnya juga tidak baik.
karena itu mereka KAUM HIZBIYUN suka menuduh seorang salafiyyin dengan tuduhan AHKLAKNYA TIDAK SESUAI DENGAN SALAFUH SHALEH maka tuduhan ini sama persis dengan mengKAFIRkan seorang muslim.........karena itu bagian AKIDAH.

rosulullah shalallahu alaihi wa salam di UTUS untuk menyempurnakan AHKLAK tidak di khususkan hanya perilaku saja,tapi termasuk menghilangkan AHKLAK JAHILIYAH dan di sempurnakan dengan AHKLAK TAUHID.

jadi seseorang tidak bisa menuduh seseorang AHLU SUNNAH ............si fulan ini tidak baik AHKLAKnya.........si anu tidak baik AHKLAKnya.
ini berbahaya sekali karena AHKLAK ITU BAGIAN DARI AKIDAH.

apa itu ADAB : yang ana pahami ADAB itu aturan untuk menepati diri dimana saja sesuai dengan setiap hati manusia jika baik maka hal tersebut menyenangkan buat semua orang.

ADAB itu tidak hanya untuk manusia saja untuk semua mahkluk bisa jadi hewan,ada aturan ADAB untuk hewan sebagai contoh : kita di anjurkan jangan mengasah PISAU JAGAL di depan hewan yang ingin di sembelih karena di kwatirkan itu membuat hewan ketakutan dan lari.

blom lagi ADAB kepada ALLA azza wa jalla : seperti memakai pakaian ketika SHALAT,kita di anjurkan untuk memakai PAKAIAN sesuai dengan syari.menututp AURAT,longgar dan tidak ada gambar mahkluk hidup.

jadi kesimpulan jelas perbedaan AHKLAK (bisa menyangkut AKIDAH) dan ADAB khusus pergaulan terhadap semua mahkluq dan tata cara ketika bertemu atau menghadap kepada ALLAH azza wa jalla.

wallahu a'alam.
Logged
abuabdilhalim
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 16


« Reply #1 on: 04 December 2009, 11:07:38 AM »

Assalamu'alaikum abaa khoolid..

Ana coba memberikan sedikit faidah tentang perbedaan antara akhlak dan adab.

Kita bisa mengatakan bahwa fulan itu akhlaknya baik dan fulan ini akhlaknya buruk. Artinya kata akhlak bisa digunakan untuk perilaku yang terpuji dan yang tercela. Sedang kata adab hanya digunakan untuk perilaku yang terpuji. Buktinya adalah kata "beradab". Misalnya, si fulan itu beradab/ mempunyai adab. Dan si fulan ini tidak beradab. Nampak bahwa adab itu hanya untuk akhlak yang terpuji. Sehingga kita tidak perlu mengatakan "adab yang baik". Sebab kata adab itu sudah berarti akhlak yang baik.

Quote
jadi jika seorang AHLU SUNNAH di tuduh AHKLAKnya tidak baik maka tuduhan itu termasuk nenuduh AKIDAHnya juga tidak baik.
karena itu mereka KAUM HIZBIYUN suka menuduh seorang salafiyyin dengan tuduhan AHKLAKNYA TIDAK SESUAI DENGAN SALAFUH SHALEH maka tuduhan ini sama persis dengan mengKAFIRkan seorang muslim.........karena itu bagian AKIDAH.

Ana pandang, tuduhan itu tidak sama dengan mengkafirkan seorang muslim.

Tentunya, perkataan siapapun harus dipahami sesuai dengan maksud si pengucap sendiri. Tidak cukup hanya dengan makna gramatikalnya saja. Bahkan pernyataan "akhlak salafiyyin tidak sesuai dengan salafush sholeh" ana pandang tidak mengarah pada pengkafiran. Sebab, kalau begitu, ketika seorang salafiy mengatakan dengan terang bahwa akidah para penganut asy'arisme itu tidak sesuai dengan akidah salafush sholeh, berarti itu juga sebuah pengkafiran.

Menghukumi sesuai atau tidak sesuai dengan petunjuk Salafush sholeh, perlu dibedakan dari menghukumi kafir atau tidak kafir.

Kata akhlak sendiri memang bisa saja dipahami telah mencakup tidak hanya gerak-gerik perbuatan zahir seseorang, tapi juga gerak-gerik perbuatan batinnya. Dan akidah itu adalah bahan yang dengannya seseorang meyakini segala hal ihwal tentang Allah, Malaikat-Nya, dan sebagainya. Meyakini sesuatu tentu juga merupakan sebuah perbuatan batin.

Wallaahu a'lam.
Logged
Darussunnah
Global Moderator
Warga Setia
*****
Offline Offline

Posts: 176


« Reply #2 on: 04 December 2009, 02:48:46 PM »

jazaakallahu khoir ustadz tambahan faedahnya.
Logged
abukhalid alsamurai
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 7


« Reply #3 on: 04 December 2009, 06:03:01 PM »

AHKLAQ itu terbagi 3

1.ahklaq JAHILIYAH : yaitu ahklaq suatu kebiasaan yang di bawa oleh nenek moyang mereka dahulu dalam peribadatan seperti memberi sesajen kepada berhala2 baik berbentuk kuburan2,pohon2 yang keramatkan atau patung2 yang di sembah.dan berbagai macam macam kesyirikan yang di lestarikan dari jaman ke jaman.

ana sarankan baca kitab syaikhul islam muhammab abdul wahab rahimahullah AL MASAIL JAHILIYAH = ahklak jahiliyah

2.ahklaq MUNAFIQUN : yaitu ahklaq orang orang yang munafiq (zindik) perusak agama dengan bid'ah bid'ah yang di buat dari olahan akal dan hawa nafsu untuk melakukan suatu ibadah tanpa tutunan rosulullah shalallahu alaihi wa salam bertentangan dengan syariat islam yaitu AL QURAN dan HADIST dan beberapa ciri ciri mereka,berbicara AGAMA TANPA ILMU,suka berdusta,khianat dan pengecut.

3.ahklaq MU'MININ = ahklaq orang berIMAN yang taat kepada ALAH azza wa jalla dan rosuL-NYA dengan mengikuti jalan jalan para sahabat tabiin dan tabiut tabi'in

jika menghukumi kepada seseorang salafiyyin bahwa AHKLAQnya BURUK di sertai WALA dan BARA maka ini termasuk TAKFIR menyangkut ke AHKLAQ JAHILIYAH karena perkara keSYIRIKan di sertai WALA dan BARA

jika menghukumi kepada seseorang salafiyyin bahwa AHKLAQnya BURUK di sertai WALA dan BARA maka ini dan ini bisa termasuk TABDI menyangkut ke AHKLAQ MUNAFIQUN karena perkara keSYIRIKan di sertai WALA dan BARA

jika menghukumi kepada seseorang salafiyyin bahwa AHKLAQnya BURUK tanpa di sertai WALA dan BARA maka ini termasuk TAFSIQ menyangkut ke AHKLAQ MU'MININ karena perkara kemaksiatan yang tidak termasuk SYIRIK DAN BID'AH dosa yang di ampuni oleh ALLAH azza wa jalla karena itu tidak di sertai WALA dan BARA.

kesimpulannya bahayanye memberi julukan terhadap sesama muslim dengan julukan yang jelek di kwatirkan dan rentan sekali perkara ini memakai kaedah WALA dan BARA maka pelaku yang menghukuminya dalam persimpangan jalan antara menyimpang atau merujuk.

adapun PERILAKU,WATAK,SIFAT.......ini harus di sebutkan jelas.

jika di masuki menjadi AHKLAQ lalu di tanyakan kembali perkara ini di masuki ke AHKLAQ yang mana ?............jika itu maksiat penuduh bearti bisa menjadi GHIBAH atau TAFSIQ?

perjelas dalam perkara ini " SI FULAN INI AHKLAQnya JELEK "

AHKLAQ yang mana ?

AHKLAQ JAHILIYAH (TAKFIR)?.........bearti antum mengKAFIRkan sebagaimana sayyid qutb mengatakan orang2 jaman sekarang sama dengan orang2 JAHILIYAH ?

AHKLAQ MUNAFIQUN (TABDI)? beARTI pelakunya melakukan BID'AH .....DI hukumi MUBTADI atau hanya pelaku BID'AH

AHKLAQ MU'MININ (TAFSIQ) : ahklaknya AHLU SUNNAH yang melakukan maksiat ?

bagaimana segitu rumitnya jika kita memberi gelar yang jelek.
wallahu musta'an


« Last Edit: 04 December 2009, 06:19:05 PM by abukhalid alsamurai » Logged
abuabdilhalim
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 16


« Reply #4 on: 04 December 2009, 10:05:24 PM »

Baarokallaahu fiikum abaa khoolid..

Dalam thread antum ini dikemukakan dua masalah pokok:

1. Apakah akhlak dan adab itu sama artinya?
2. Apakah tuduhan "akhlak salafiyyin tidak sesuai dengan salafush sholeh" itu berarti "salafiyyin telah kafir"?

Kemudian ada masalah lain yang perlu juga mendapat perhatian, yaitu tentang kandungan tuduhan "akhlak salafiyyin tidak sesuai dengan salafush sholeh" itu sendiri. Apakah kandungan tuduhan itu benar? Ini menjadi masalah ketiga.

Untuk soal pertama, sudah berlalu tanggapan ana. Sebagai tambahan, kita bisa menemukan dalam kitab-kitab para ulama pembahasan tentang adab-adab makan, adab-adab buang air, adab-adab menggunakan hape, atau adab-adab pernikahan. Ini membuktikan bahwa adab adalah perbuatan yang seharusnya dikerjakan. Berbeda dengan akhlak yang sebenarnya tidak lain adalah watak, perilaku yang sudah menyatu dalam diri seseorang. Bahkan akhlak ini adalah salah satu makna kata "ad diin" (biasa diterjemahkan sebagai agama). Ketika suatu perbuatan telah menyatu dalam diri seseorang, bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah menjadi akhlak dan "diin" orang tersebut. Berbeda halnya dengan perbuatan yang hanya sekali dua kali dikerjakan. Dengan demikian, akhlak itu bisa dibedakan menjadi dua: baik dan buruk. Adapun pembagian akhlak menjadi tiga: jahiliyyah, munafik dan mukmin, ini perlu dikaji ulang. Sebab yang dibagi di sini jelas bukan akhlak itu sendiri tapi manusia-manusianya yang memiliki akhlak tertentu. Pembagian jahiliyyah, munafik dan mukmin itu pembagian manusia. Ada manusia mukmin. Ada manusia munafik. Ada manusia kafir. Mukmin itu artinya orang yang ber-iman. Munafik itu orang yang ber-nifaq. Kafir itu orang yang ber-kufur. Sedangkan akhlaq orang-orang ini ada yang baik dan ada yang buruk. Orang-orang jahiliyyah dulu terkenal juga memiliki akhlak-akhlak yang baik seperti memuliakan tamu, berani, menepati janji dan sebagainya. Sedang orang-orang mukmin bisa saja memiliki kejahiliyahan. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shollallaahu'alayhiwasallam kepada Abu Dzar (yang pernah mengatai ibu salah seorang Sahabat): innakam ru`un fiika jaahiliyyah (sesungguhnya engkau ini seorang yang memiliki sikap jahiliyyah). Begitu juga dengan akhlak munafik. Ia bisa ada dalam diri seorang mukmin sebagaimana yang terdapat dalam hadis tentang tanda-tanda orang munafik.

Tambahan tanggapan untuk masalah kedua: seorang salafiy tentu akan memandang akidah (bukan hanya akhlak) Sayyid Quthb itu tidak sesuai dengan akidah salafush sholeh. Silahkan antum jawab: apakah itu berarti seorang salafiy mengkafirkan Sayyid Quthb?

Adapun masalah ketiga, sebenarnya sudah ada yang menyinggungnya dalam forum ini. Yaitu di thread yang berjudul "salafiy yang tidak nyalaf". Menggunakan nisbah salafiy jelas bukan seperti menjadi anggota klub olahraga atau perkumpulan pemuda dan sebagainya, yang sekali daftar bisa langsung dapat kartu keanggotaan. Ia butuh perjuangan seumur hidup. Tuduhan itu jelas kontradiktif. Bagaimana seorang salafiy bisa tidak sesuai dengan salaf? Di sini ada dua kemungkinan. Bisa jadi, orang yang dituduh sebenarnya bukan salafiy, melainkan hanya ngaku-ngaku salafiy. Atau, yang menuduh itu tidak punya ilmu yang benar tentang salafush sholeh.

Wallaahul muwaffiq.
Logged
abukhalid alsamurai
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 7


« Reply #5 on: 05 December 2009, 09:12:31 PM »

thayib.....barakallahfiiqum

permasalahan agak sedikit kabur..
yang di maksud di sini BAHAYAnya memberi gelar jelek terhadap seorang muslim seperti si FULAN atau si ALAN (AHKLAQnya jelek) karena perilakunya kurang berkenaan dengan ADAB ADAB sebagai contoh adab bicara terhadap orang tua,atau adab adab lainya terkadang ini di jadikan sebagai bahan tuduhan untuk memberi gelar jelek terhadap seseorang muslim di karenakan memang menyalahi adab adab semestinya.

banyak fakta di lapangan jika seseorang memberi gelar jelek terhadap seorang muslim lainya seperti si FULAN (ahklaqnya jelek) coba di perhatikan apakah tuduhan itu di sertai WALA dan BARA ? jika tuduhan itu sertai WALA dan BARA apa itu bukan bentuk TAKFIR ? walaupun penuduh menyangkal ini perkara hati hanya ALLAH azza wa jalla yang tahu.

bagaimana EFEKnya jika si fulan di tuduh AHKLAQnya jelek dengan fulan ini kurang berADAB ? apakah sama ?

tidak realita di lapangan setiap orang mengatakan si fulan ini AHKLAQnye jelek di pastikan di sertai WALA dan BARA itu yang ana pahami dan di buktikan.
jika memvonis si fulan AHKLAQnya jelek di sertai WALA dan BARA apa bukan TAKFIR atau TABDI jika itu di lakukan ?

yang ana bahas di sini terkadang pengKABURAN pemahaman terhadap AHKLAQ dan ADAB itu sepertinya campur aduk.

coba kita perhatikan jika seseorang menuduh muslim lainya sebagai "si FULAN ini kurang berADAB" bagaimana efeknya realitanya kebanyakan,ternyata penuduh kebanyakan tidak memakai kaedah WALA dan BARA.karena perkara ADAB tidak ada sangkut pahut dengan AKIDAH sebagaimana ARAB BADUI buang air kecil di dalam masjid.

maka itu bahayanya memberi gelar terhadap sesama muslim apalagi sesama salafiyyin dengan gelar buruk apalagi bentuk seperti " si FULAN AHKLAQnya tidak sesuai SALAFUSH SHALEH" ini menjadi perkara (AKIDAH dan MANHAJ) bisa jadi fulan ini TABDI atau TAKFIR karena membawa dan menyangkut pernyesuaian terhadap salafush shaleh.jika ahklaqnya tidak sesuai salafush shalelh penuduhnya mengangap itu keluar dari manhaj salaf.dan ini menjadi perkara TABDI apalagi di sertai WALA dan BARA.

na'am yang antum katakan terkadang ada seorang masi membawa AHKLAQ JAHILIYAH " ketika sahabat pernah bertanya kepada rosulullah shalallahu alaihi wa salam waktu pulang dari JIHAD" YAA ROSULULLAH waktu kami jahiliyah suka memberi sesajen di bawah pohon boleh kami menancapkan pedang di pohon ini sebagaimana dahulu kami lakukan menghormati pohon ini "
afwan ini hapalan ana.........insya ALLAH dalil ana cari ana edit.
lalu rosulullah shalallahu alaihi wa salam MURKA "ALLAHUAKBAR setelah kalian masuk islam kenapa kalian masi kahdza wa kahdza

adapun AHKLAQ munafiqun seperti,suka berdusta,khianat...catatan asal bukan (bid'ah dan mendustakan agama ALLAH azza wa jalla dan rosul-NYA) maka ini terkadang setiap muslim mempunyai sifat ini.jika telah melakukan penyimpangan2 maka ini bukan lagi sifat sebagai kaum mu'minin.

yang perlu di pahami,PRINSIP AHLU SUNNAH tidak sembarangan memberi gelar jelek terhadap sesama muslim apalagi terhadap salafiyyin.bisa jadi perkara PRIBADI lalu dendam setelah itu memberi gelar yang jelek di sertai WALA dan BARA.
maka penuduhnya akan mendapati penyimpangan MANHAJ terhadap dirinya karena GHULUW terhadap sesama muslim.

wallahu musta'an
« Last Edit: 06 December 2009, 12:22:36 PM by abukhalid alsamurai » Logged
abuabdilhalim
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 16


« Reply #6 on: 07 December 2009, 08:47:00 AM »

Na'am, ana berusaha memahami dengan baik permasalahan yang antum paparkan. Semoga Allah memberikan tawfiq agar kita bisa saling memberi faidah.

Dari hadis Abdullah bin Mas'ud rodhiyallaahu'anhu, Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam bersabda:

سباب المسلم فسوق و قتاله كفر

Mencaci maki seorang muslim itu merupakan kefasikan dan membunuh seorang muslim itu merupakan kekufuran. (Muttafaqun 'alayhi).

Hadis ini tentu harus dijadikan landasan utama seorang muslim dalam berinteraksi dengan saudara-saudaranya sesama muslim.

Kemudian, berkaitan dengan masalah nomor dua, antum mengatakan:

Quote
maka itu bahayanya memberi gelar terhadap sesama muslim apalagi sesama salafiyyin dengan gelar buruk apalagi bentuk seperti " si FULAN AHKLAQnya tidak sesuai SALAFUSH SHALEH" ini menjadi perkara (AKIDAH dan MANHAJ) bisa jadi fulan ini TABDI atau TAKFIR karena membawa dan menyangkut pernyesuaian terhadap salafush shaleh.jika ahklaqnya tidak sesuai salafush shalelh penuduhnya mengangap itu keluar dari manhaj salaf.dan ini menjadi perkara TABDI apalagi di sertai WALA dan BARA.

Yang "tidak sesuai dengan salafush sholeh" memang punya beberapa kemungkinan. Ia bisa merupakan kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Ia bisa juga merupakan perkara bid'ah. Atau bisa juga merupakan kefasikan/ma'shiyat. Maksudnya adalah, sesuatu yang tidak sesuai dengan salafush sholeh itu bertingkat-tingkat. Dari yang paling besar (yang mengeluarkan seseorang dari Islam) sampai yang paling kecil.

Dalam memahami penilaian buruk "akhlak salafiyyin tidak sesuai dengan salafush sholeh", antum perlu menyadari adanya kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau suatu pernyataan memiliki beberapa kemungkinan makna, tentu kita tidak bisa memastikan mana makna yang dimaksud oleh si penutur, sampai dia menjelaskannya secara terang. Adapun qorinah/indikator "disertai wala dan bara" yang antum sebutkan, terus terang masih belum bisa ana pahami, bagaimana konkretnya? Apakah maksudnya "disertai dengan hajr"? Kalau ya, maka apakah pengisoliran seseorang itu sudah menjadi bukti bahwa orang itu di-tabdi' atau ditakfir? Dalam muroja'ah antum di thread lain, antum sendiri menuliskan contoh 3 orang Sahabat yang diisolir. Tapi itu bukan berarti mereka ditabdi' atau lebih-lebih ditakfir. Di sini, supaya tidak kabur, bisa antum jelaskan, apakah adanya hajr itu merupakan indikator tabdi' atau takfir?
Logged
Pages: [1]   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: