Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

10 February 2012, 01:21:46 PM

Sekarang antum bisa berbagi info kajian atau dauroh di kalender forum ukhuwah alilmu, posting di sini.


Pages: [1]   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: Ketika Orang Banyak Menimbun Emas Dan Perak  (Read 1133 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
abuabdilhalim
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 16


« on: 15 December 2009, 10:28:26 PM »

Imam Ahmad mengeluarkan sebuah riwayat dari hadis Syaddad bin Aus rodhiyallaahu'anhu, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam bersabda: ketika orang banyak menimbun emas dan perak, maka timbunlah oleh kalian kalimat-kalimat ini: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ketegaran dalam perkara (agama) ini, dan tekad yang kuat untuk menempuh jalan yang lurus, dan aku memohon kepada-Mu (tawfiq untuk) mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Dan aku mohonkan kepada-Mu hati yang selamat, dan aku minta kepada-Mu lisan yang jujur, dan aku minta kepada-Mu kebaikan segala sesuatu yang Engkau ketahui dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau ketahui, dan aku mohon kepada-Mu ampunan atas segala dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib.

Hadis ini dikeluarkan oleh At Tirmidziy secara ringkas, dan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Al Hakim, ia juga menshahihkannya.

Hadis ini memiliki beberapa jalur dari Syaddad.

Dan pada sebagian jalur: bahwasanya Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam mengajarkan para Sahabat untuk membaca doa ini pada setiap sholat atau pada setiap selesai sholat.

Adapun sabda beliau shollallahu'alayhiwasallam "Ketika orang banyak menimbun emas dan perak, maka timbunlah oleh kalian kalimat-kalimat berikut ini" merupakan isyarat bahwa menimbun kalimat-kalimat ini lebih bermanfaat daripada menimbun emas dan perak.

Karena kalimat-kalimat ini manfaatnya kekal sedangkan emas dan perak akan habis. Allah berfirman:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Q.S.18:46)

Dan Allah berfirman:
"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal..." (Q.S.16:96)

Dan diriwayatkan bahwasanya Sulaiman bin Dawud 'alayhimassalaam dalam rombongannya, bersama dengan para manusia dan jin, melewati seorang pembajak tanah. Si pembajak tanah berkata: "Sungguh putra Dawud telah diberi kerajaan yang besar!" Maka Sulaiman mendatanginya dan berkata padanya: "Satu kali tasbih itu lebih baik daripada kerajaan Sulaiman. Karena tasbih sekali itu akan kekal, sedangkan kerajaan Sulaiman akan lenyap".

Dalam sebuah hadis masyhur dari Tsauban, bahwasanya dia berkata: ketika turun ayat "...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak..." (Q.S.9:34), Rasulullah shollallaahu'alayhiwasallam bersabda: "Celakalah emas dan perak". Para Sahabat berkata: "Lalu apa yang akan kita gunakan wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Hendaknya setiap orang dari kalian memakai hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, dan seorang istri yang sholihah, yang menyokong dirinya di atas keimanannya.

Sebagian orang mengatakan bahwa emas dinamai "dzahab" karena dia itu "yadzhab" (pergi menghilang). Dan perak dinamai "fidhdhoh" karena dia itu "tanfadh" (habis) dengan cepat. Dengan demikian keduanya tidak kekal. Maka siapa yang menimbunnya, berarti ia menghendaki kekekalan sesuatu yang tidak kekal. Dan sesungguhnya manfaat emas dan perak itu tidak ada kecuali setelah keduanya diinfakkan untuk hal-hal kesalehan dan di jalan-jalan kebaikan.

Al Hasan berkata: seburuk-buruk dua orang teman adalah dirham dan dinar! Keduanya tidak bermanfaat apa-apa untukmu kecuali setelah berpisah darimu. Selama keduanya masih disimpan, maka dirham dan dinar itu tidak akan membahayakan ataupun memberikan manfaat. Manfaat keduanya tidak lain adalah dengan menginfakkannya dalam ketaatan.

Allah berfirman:

"...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam.." (Q.S.9:34-35)

Ayat ini merupakan celaan dan ancaman bagi orang yang menahan hak-hak hartanya yang wajib seperti zakat, bersilaturrahmi, menjamu tamu dan berinfak ketika terjadi bencana.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Huroiroh, dari Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam, beliau berkata: "Tidak ada seorangpun yang memiliki emas dan perak, yang tidak menunaikan hak hartanya, melainkan pada hari kiamat nanti, akan dibuatkan untuknya papan logam dari api neraka, lalu papan logam itu dipanaskan di neraka jahannam kemudian disetrikakan dengannya badan orang itu, dahinya dan punggungnya. Setiap kali logam itu menjadi dingin, ia kemudian dipanaskan kembali untuk orang tersebut selama satu hari yang lamanya 500.000 tahun. Sampai selesai pengadilan Allah di antara para hamba-Nya, maka orang itu akan melihat jalannya, ke surga atau ke neraka".

(Sumber: Pembahasan hadis Syaddad bin Aus, oleh Ibnu Rajab Al Hanbaliy)
Logged
abuabdilhalim
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 16


« Reply #1 on: 16 December 2009, 11:02:55 PM »

Dan dalam Shahih Bukhori, dari Abu Huroiroh, dari Rasulullah shollallahu'layhiwasallam, beliau berkata: "Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya itu akan dijelmakan menjadi seekor ular besar yang botak kepalanya, dan mempunyai dua bintik hitam. Ular itu melilit lehernya dan mencengkram kedua rahangnya kemudian berkata: aku adalah harta kekayaanmu, aku adalah harta timbunanmu". Selanjutnya Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam membaca firman Allah:

"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. Ali Imran: 180).

Di dalam Shahih Bukhori juga, dari Abu Huroiroh, dari Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam, beliau berkata: "Harta timbunan seorang dari kalian pada hari kiamat nanti akan menjadi seekor ular jantan besar yang berkepala botak licin. Ia melarikan diri dari ular itu pada hari kiamat, namun ular itu terus mengejarnya sambil berkata: aku adalah harta timbunanmu. Terus saja ular itu mengejarnya sampai ia menjulurkan tangannya dan ular itu pun melahap tangannya tersebut".

Dan dalam Shahih Muslim, dari Jabir, dari Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam, beliau bersabda: "Tidak ada seorangpun yang mempunyai timbunan harta, dan ia tidak menunaikan haknya, melainkan pada hari kiamat, harta timbunannya itu akan datang pada hari kiamat dalam wujud ular jantan besar yang berkepala botak licin. Ular itu mengikutinya seraya membuka mulutnya. Kalau ular itu datang, ia melarikan diri. Maka ular itu memanggilnya: ambillah hartamu yang kau sembunyikan, karena aku tidak membutuhkannya. Ketika dilihat bahwa ia memang harus mengambilnya, ia pun menjulurkan tangannya di mulut ular itu. Dan ular itu pun menggigit tangannya dengan keras.

"Asy syujaa`: ular jantan. Dan "al aqro'": yang rontok rambut kepalanya karena banyaknya racun.

Oleh karenanya, syari'at memberikan perintah untuk menimbun apa-apa yang kekal manfaatnya setelah mati, seperti iman, amal saleh dan perkataan yang baik. Manfaat itu semua akan kekal dan dengannyalah kekayaan terbesar akan tergapai.

Ibnu Mas'ud berkata: sebaik-baik harta simpanan seorang yang tak punya harta adalah surat Al Baqoroh dan Ali Imron yang ia baca dalam sholat di akhir malam.

Akhir surat Al Baqoroh adalah simpanan di bawah 'Arsy, yang diberikan kepada umat ini bersamaan dengan surat Al Fatihah. Dan kalimat hawqolah "laa hawla wa laa quwwata illaa billaah" adalah salah satu harta simpanan surga.

Dalam sebagian atsar isroiliyyat: harta simpanan seorang yang beriman adalah Tuhannya.

Maksudnya adalah ia tidak menyimpan apapun selain ketaatan, ketakutan, kecintaan dan pendekatan diri kepada-Nya. Maka barangsiapa harta simpanannya adalah Tuhannya, ia akan mendapatkan-Nya pada saat membutuhkan-Nya.

Sebagaimana dalam wasiat Rasulullah shollallahu'alayhiwasallam kepada Ibnu Abbas: jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Ingatlah Allah pada saat mudah, maka Ia akan mengingatmu pada saat susah.

"Kaulah hartaku, Kaulah simpananku
Kaulah kemuliaanku, Kaulah kebanggaanku
Bagaimana ku takut mendapat kefakiran
Sedang kau mengamankanku di saat kubutuhkan"

Barangsiapa yang menjadikan Allah sebagai harta simpanannya, maka dia telah beruntung mendapatkan kekayaan yang paling besar.

Sebagian orang arif berkata: siapa yang cukup dengan Allah, akan aman dari kekurangan. Dan siapa yang selalu di pintu, akan terus memberikan khidmah. Dan siapa yang banyak mengingat mati, akan banyak menyesal.

"Dunia itu akan selesai dan fana
Orang di dalamnya hanya tawanan belaka
Sungguh, di dunia ini tak ada yang nikmat
Pun tak ada yang namanya hidup lezat
Hai orang yang kaya dengan tumpukan dinar
Pecinta Allah itu kekayaannya lebih besar"

(Sumber: Pembahasan hadis Syaddad bin Aus, oleh Ibnu Rajab Al Hanbaliy)
Logged
Pages: [1]   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: