Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

10 February 2012, 01:19:00 PM

Ahlan wa sahlan, bagi pengunjung bisa mendaftar di sini, manfaatkan fasilitas Forum Alilmu untuk menjalin ukhuwah dengan ikhwah dari berbagai daerah, mari berbagi faedah dan saling menasehati di atas sunnah. Masih banyak tema diskusi menarik lainnya di dalam forum setelah antum login nanti.


Pages: [1] 2   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)  (Read 5001 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 15


« on: 28 June 2009, 09:47:38 PM »

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah, washolatu wassalaamu'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi waman tabi'ahum bil ikhsan.

Kebenaran manhaj salafusshalih dalam memahami Islam tidak perlu diragukan lagi.  Ditengah berbagai pertarungan pemikiran keislaman, selalu saja para ulama yang meniti jejak salafusshalih berada dalam garda terdepan menepis berbagai penyimpangan.  Ahlussunnah unggul karena dua hal: Pertama: Karena keikhlasannya; Kedua: Karena keilmiahannya (Al Qur'an, As Sunnah As Shahihah, Mafhum Salafusshalih) (ada rujukannya tapi lupa... ada yang tau?, pen.)

Sekalipun manhaj salafusshalih adalah suatu kebenaran, tapi bisa jadi para pengikutnya yaitu orang-orang yang berusaha meniti jejak salafusshalih mempunyai banyak kekurangan disana-sini.  Orang akan makin baik jika mendapatkan kritik konstruktif.  Sebaliknya, seseorang akan bisa binasa jika selalu mendapat pujian, apalagi jika kelewat batas.

Untuk itulah kita kumpulkan kejelekan-kejelekan yang terkadang atau sering dilakukan sebagian kita.  Semua tentu karena kita mencintai salaf dan para peniti jejak salafusshalih dan bernasihat karena Allah semata.

Saya mulai ya, ditunggu lainnya:

1. Berbicara/berdialog tanpa melihat kapasitas keilmuan

Kita sering melihat ikhwan salafi yang berdialog, mengkritik, tanpa melihat kondisi orang tersebut.  Melihat tukang sablon awam sedang nggambar burung, langsung saja tanpa ba bi bu dikritik,"Ini haram".  Melihat seorang aktifis organisasi Islam, dikatakan,"Nggak ada gunanya, bubarkan saja organisasimu".  Akibatnya mereka bukan kemudian tergerak untuk mengkaji Islam tetapi malah membenci dan memusuhi salafi sebelum mengenal keilmuan dengan baik.  Ada akhwat yang baru ngaji salafi dikritik oleh akhwat yang sudah lama ngaji dengan perkataan,".. wajah dipamerin ke tukang becak... dll".  Cuma sekali atau duakali ikutan ta'lim habis itu enggak lagi.

2. Akhwat yang sinis...

Agak berkaitan dengan yang pertama, sering kita jumpai di majelis ta'lim, ketika ada akhwat baru ngaji terus disikapi tidak ramah. Ada yang ngajak salaman nggak mau, ada yang memandang dengan sinis karena nggak pake' cadar, nggak diajak ngobrol sesama akhwat dsb.  Di surat pembaca majalah as syari'ah kayaknya juga pernah ada.

Itu dulu, insya Allah bisa dilanjut, termasuk dalam lapangan bisnis, berdiskusi di forum2 dll.

Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 365



WWW
« Reply #1 on: 29 June 2009, 12:50:17 AM »

3. Kurang berhati-hati dalam urusan fitnah.

Semoga Allah menjaga kita dari hal ini. Sebagian ikhwah, ada yang lebih bersemangat untuk masuk ke dalam perkara fitnah, padahal ia kurang mapan dalam ilmu, serta kurang kokoh dan amanah dalam penyampaian. Ia masuk ke dalam urusan fitnah dengan berlandaskan semangat semata, atau semata mengikuti apa kata ustadznya saja tanpa melihat atau mengumpulkan dalil atau hujjah yang ada dari berbagai sudutnya.

Sehingga yang terjadi adalah kerugian bagi dirinya yang akhirnya tersibukkan dengan urusan fitnah, qiila wa qoola. Dapat pula ia akhirnya menjadi sebab makin membesarnya fitnah lantaran setiap ucapan yang didengarnya disebarkannya bahkan dibesar-besarkannya, disamping kurangnya pemahaman dia akan kaidah-kaidah syar'iyyah sehingga kurang atau keliru memahami hujjah dari pihak-pihak yang berselisih.

Padahal seandainya ia menjauh dari fitnah dan kembali pada bimbingan ulama, maka insya Allah lebih selamat bagi agamanya. Bahkan ia dapat lebih fokus untuk menuntut ilmu, yang mana perkara itu justru lebih penting dan akan menyelamatkan baginya daripada terlibat dalam fitnah.

Wallahu a'lam.
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 15


« Reply #2 on: 30 June 2009, 10:02:54 AM »

4. Ghibah
Entah disadari atau tidak, aktifitas ghibah masih dilakukan sebagian kita.  Membicarakan keburukan saudara kita yang apabila dia mendengar tentu nggak suka. Hal ini bukan dilakukan dalam kerangka tahdzir atas seorang pelaku maksiat terang-terangan yang kita bisa terkena kejahatannya, atau terhadap pribadi yang mempunyai pemahaman menyimpang yang ditahdzir para ulama.  Tetapi dilakukan kepada sesama muslim terhadap aibnya.  Bisa jadi aib tersebut dia tidak mengetahuinya yang kewajiban yang tahu mengingatkannya langsung, atau bisa jadi dia sedang berjuang melenyapkan aib tersebut (sementara kita tahunya dia berbuat kejelekan), atau sebab lainnya yang tidak pantas –dengan aib tersebut- kita ghibahi.
"Kan untuk masukan bagi dia, untuk kritik, koreksi", begitu alasannya.
"Kalau dalam rangka perbaikan tentu langsung ke oknumnya, bukan kepada orang lain yang sifatnya dalam rangka menjatuhkan... Itulah ghibah.  Kalau bener-bener terjadi saja nggak boleh, kalau nggak bener itu adalah kadzab (pendusta) yang dosanya lebih besar lagi...", demikian kurang lebih nasehat Al Ustadz Agus Su'aidi dalam salah satu kajiannya.
Lebih parah lagi kalau yang dighibah adalah ustadz atau ulama.  Ada seseorang yang dirumahnya ketempatan ustadz,  dia sudah menanyakan ke ustadz yang lain bolehnya ustadz tersebut tinggal dirumahnya.  Karena ada ustadz maka dibukalah kajian.  Baru beberapa kali berlangsung, ada beberapa peserta yang tidak hadir.  Ternyata ada seseorang yang menyebarkan berita bahwa ustadz tersebut ahlaknya jelek.  Ikhwan yang ketempatan ustadz tersebut merasa prihatin.   Jika memang ada ahlak yang jelek, kenapa nggak memberi nasehat langsung ke ustadznya?  Bisa jadi ada kesalahpahaman atau sebab lainnya.  Kalau masalah ahlak, bisa jadi orang yang menyebarkan berita itu juga mempunyai sekian banyak keburukan, dan memang itu keadaannya.  Apalagi tidak ada tahdzir dari asaatidz yang lain bahwa ustadz tersebut menyimpang dan harus dijauhi.   
Jika memang ada tahdzir kepada seseorang, bolehkah kita ghibahi pribadinya (ahlaknya)?  Hal ini tidak boleh, sebagaimana dinasehatkan oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani.  Yang disampaikan cukup penyimpangannya, bukan hal-hal yang sifatnya pribadi diluar penyimpangan. 
Keburukan inilah yang banyak menimpa sebagian kita, akhirnya timbullah saling curiga, perpecahan dan keburukan-keburukan lainnya.  Wallahulmusta’an.
Logged
Abu Hasan Ali al-Balitary
Warga Baru
*
Offline Offline

Posts: 2


« Reply #3 on: 01 July 2009, 10:58:46 PM »

5. Ikhwan Sinis, Kurang Hikmah, Kesannya Sombong
   
    Sering kita menjumpai Ikhwah salafy yang mungkin karena sudah lama ta'lim ketika ada saudaranya yang memberi salam atau tersenyum padanya mereka hanya melihat sekedarnya saja bahkan ada kesan meremehkan. Dan juga dalam menerapkan ilmu sunnah tanpa dibarengi dengan hikmah...padahal Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Ud'u ila sabili Robbika bil hikmah wal mauidhatil hasanah,..." Dan juga Rasul 'alaihi shalatu wa salam bersabda : " Laa tahqiranna minal ma'rufi syai'an walaw an talqa akhoka bi wajhin thaliq...". Tadi selepas shalat maghrib saya mendengar cerita dari paman saya bahwa ada ikhwah yang menampik dengan keras tangan seorang tua yang akan menyalaminya selepas shalat maghrib...taruhlah perbuatan itu (bersalaman setelah shalat) adalah bid'ah tetapi dampak dari perbuatannya adalah antipati dari jama'ah masjid dan juga masyarakat di sekitar mesjid terhadap dakwah kepada sunnah. Itu terjadi karena caranya yang kurang hikmah.
Logged
abuhusain
Global Moderator
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 71



« Reply #4 on: 02 July 2009, 10:23:56 AM »

6. Terburu mendahulukan tahdzir, tabdi', dan hajr, di atas sikap tatsabut, tabayyun, menasehati bil hikmah atau mengkoreksi secara ilmiah.

Ini juga banyak terjadi, bahkan termasuk pengalaman kami pribadi. Wallahul musta'aan.
Hanya karena suatu perbedaan pendapat yang masih dalam batas dibolehkan, serta lantaran ustadznya sudah mengeluarkan statement hajr dan tahdzir, maka serta merta murid-muridnya mengikuti tanpa tahu menahu duduk persoalannya serta tanpa mendalami persoalan secara ilmiah dari pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Ditambah lagi cara penyikapan yang berlebihan dari yang disyariatkan, seolah merasa bangga jika hanya dirinya yang berada di atas kebenaran serta menutup pintu munashohah ataupun diskusi secara ilmiah.
Padahal, sekiranya ia mau sedikit saja berlemah lembut, niscaya saudaranya akan lebih terbuka dalam menerima nasehat dan kritikan ilmiah daripada penyikapan yang tidak pada tempatnya. Itu pun kalau ia benar dalam apa yang ia pegangi, bagaimana jika ia telah keliru dalam menerapkan tahdzir dan hajr? Misal hanya semata 'taklid' pada perkataan ustadznya yang keliru. Hanya karena ia ingin cepat mendapat kesimpulan disertai hasrat pribadinya untuk menjatuhkan saudaranya, maka tertutup baginya untuk mempertimbangkan dalil-dalil ilmiah.
Jika saja menjadi asbab hidayah itu sangatlah mulia, maka tentu saja sebaliknya menjadi asbab menjauhnya manusia dari dakwah adalah sangat tercela, wal 'iyyadzubillah. Sementara, yang lebih penting baginya yaitu menuntut ilmu, justru tersibukkan oleh pembicaraan akan kesalahan-kesalahan saudaranya yang belum tentu kebenarannya secara hakiki. Wallahu a'lam.
Logged
abusufyan
Warga Baru
*
Offline Offline

Posts: 1


« Reply #5 on: 03 July 2009, 08:16:14 AM »

masya Alloh nasehat yang bagus buat kita semua..
ane nambahin

7. meremehkan dalam muamalah utang-piutang

pernah ane dengar kajian ustadz menyinggung masalah ikhwan yang menganggap enteng utang dengan ikhwan lain.
Mungkin ini juga sering terjadi, mulai dari berhutang tanpa tertulis, molor-molor bayar utangnya, sampe ikhwan yang diutangin merasa ga enak menagih terus. padahal mungkin yang dipinjemin sudah punya kemampuan untuk menyicil, tapi dia meremehkan ga sungguh-sungguh berusaha gimana bisa bayar utangnya, karna dipikirnya sama-sama ikhwan ga apalah telat-telat...
Awalnya masalah ini mungkin sepele, tapi lama-lama kalo ga diselesaikan juga bisa timbul kebencian dan lain-lain yang meretakkan ukhuwah antara ikhwah.

tentang utang piutang insya Allah ikhwah bisa baca di majalah syariah pernah membahasnya, kalo ga salah edisi 46.
wallahu a'lam
Logged
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 11


WWW
« Reply #6 on: 04 July 2009, 12:42:52 PM »

Bismillah,

Wallahu a'lam yang kami temui tidaklah demikian. Salafiyyin di sini (Bekasi) ramah tamah dan lemah lembut. pertama kali ana datang ke masjid ana langsung jatuh cinta karena senyuman mereka mudah sekali terbuka. Langsung deh dapat kenalan 6 orang dan setelah itu kami selalu saling mengunjungi dan berkenalan dengan keluarga. Makanya keluarga Salafiyyin disini saling akrab.

Terkadang pikiran kita selalu mensugesti. kalau selalu berpikir salafiyyin akhlaknya buruk ya qadarullah yang kita temui dhilalahnya selalu demikian.

Kalau di Internet iya, mmg ada beberapa yang seperti disebutkan di atas. namun Alhamdulillah di dunia realita tidak demikian. Kami tidak menemui indahnya ukhuwah, persahabatan, dan kekeluargaan selain di sini, Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita saling membantu, tolong menolong, dan saling mengunjungi. Betapa indahnya ukhuwah yang dibina Ahlus Sunnah, di mana saja mereka berada.
Logged

Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 15


« Reply #7 on: 04 July 2009, 05:09:58 PM »

@atasku
Kita bukanlah sedang berpikir bahwa salafi itu mesti buruk, atau mensugesti demikian.  Akan tetapi kita sedang berbicara tentang realitas sebagian kita yang masih berperilaku buruk, sekalipun mereka ngaji salafi.  Realitas keburukan ini juga sering dinasehatkan oleh asaatidz, misalnya Ust Afifuddin ketika membahas kebangkitan da'wah salaf (dari cd al atsariyah) mengkoreksi sikap-sikap kurang bijak sebagian ikhwah.  Juga Ust Tsanin Hasanuddin menyisipkan masalah 'ghibah' ketika membahas masalah rumah tangga Islami, atau Ust Muhammas As Sewed mengkoreksi masalah hutang piutang yang sering mbulet, dsb.  Semua itu merupakan cermin bagi kita, dan ketika kita jumpai betapa banyak noda yang ada dalam tubuh kita segera kita berusaha menghapusnya. 
Adalah lebih baik merasa banyak kekurangan yang akhirnya memacu memperbaiki diri, daripada merasa telah berbuat banyak kebaikan yang akhirnya membuat 'ujub.
Adapun di Bekasi kondisinya baik, walhamdulillah, semoga bisa dijaga dan ditingkatkan.

8.  Mengkoreksi didepan orang banyak
Masih berhubungan dengan sikap yang kurang hikmah adalah mengkoreksi orang lain di depan orang banyak (jawa: thok melong).  Misalnya akhwat ketika ada seorang muslimah awam yang masih bergincu dan berpakaian tabarruj, disaat berkumpul dengan teman-temannya didepan banyak orang dikoreksi pakaiannya begini-begini dst.  Dari sini menumbuhkan sikap antipati.  Sangat berbeda apabila ada muslimah yang baru ngaji, dipinjami buku, Cd atau bulletin da'wah, dibantu kesulitan-kesulitannya dsb, lambat laun dengan makin simpatinya dengan da'wah salaf dia akan meninggalkan hal-hal yang buruk.

9.  Berdiskusi dengan Kurang Santun dan Ilmiah
Kadang kita jumpai ikhwah salafi yang berdiskusi di blog, forum diskusi atau via chatting dengan kurang beradab.  Bahasa yang kasar, ngomong asal-asalan, menjawab dan menyampaikan sesuatu tidak didasarkan rujukan yang jelas.  Akhirnya yang kena --lagi-lagi-- adalah salafi.  Biasanya tipe semacam ini akan di 'banned' dalam forum diskusi, bukan karena dia salafi tetapi karena tutur katanya yang tidak sopan.

Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 365



WWW
« Reply #8 on: 04 July 2009, 09:10:47 PM »

Na'am akhy Abu Harun, di dunia nyata kadang terjadi hal-hal di atas. Memang pasti setiap dari kita punya kesalahan-kesalahan, tetapi mungkin yang penting kita singgung di sini adalah kekeliruan person yang sering menyebabkan tercemarnya dakwah salaf karena orang umum/awam biasanya menilai dari pribadi orang per orang lalu dianggapnya itulah dakwah salaf...
Maka itu nasehat yang ada disini terutama untuk memperbaiki diri kita sendiri.
Wallahu a'lam.
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 11


WWW
« Reply #9 on: 07 July 2009, 11:59:42 AM »

Bismillah,

Jika demikian, maka kurang ahsan jika yang diberi judul adalah Salafy, karena setiap manusia memiliki sikap yang seperti itu. Judul di sini bisa menimbulkan stigma yang kurang pantas dari sisi dakwah. Dan judul yang tepat adalah "Muslim yang tidak berakhlak Muslim"

Dalam majalah Asy Syariah juga pernah dibahas masalah akhlak, namun kita memberi label Akhlak seorang muslim, bukan akhlak seorang Salafy. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (An-Nur: 19)

Adapun point-point yang disebutkan di atas, insya Allah hanya diamalkan oleh segelintir saja dari Salafiyyin yang mungkin karena baru ngaji, masih awam, baru semangat-semangatnya, makanya wajar jika bertindak seperti itu. Bukannya mentazkiyah Salafiyyin, bukan. Karena di dalam kajian Salafiyyin kita juga belajar akhlak koq, kita belajar adab, paling tidak minimal kita diajarkan kitab Syarah Riyadhus Shalihin oleh asatidzah yang mengajari kita.

Sekarang, marilah kita sama-sama belajar adab. Ketika kita menuliskan point-point itu, maka kita pasti akan berpikir dulu, mencari-cari, menerawang untuk menemukan point yang pantas kita tuliskan. Ingat yaa akhi, disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al Aslami Radhiallahu'anhu dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam,

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya, dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari / mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420, 421,424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud: Hasan shahih)

Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi)

Yang ana pahami dalam ilmu psikologis, hidup itu bagaikan lingkaran dan semuanya berputar pada poros perasaan kita. Sebagai contoh: jika kita mencintai permainan sepak bola, maka dhilalahnya kita selalu dipertemukan dengan sesama pecinta sepak bola. Demikian pula mata, hati, dan pendengaran kita selalu dihadapkan pada seputar bola.

Makanya jika kita selalu dihadapkan pada informasi, penglihatan, atau apapun yang menunjukkan pencitraan buruk pada Salafiyyin, kita perlu mengkoreksi diri kenapa demikian, ada apa dengan diri kita, apakah kita sudah ikhlash untuk menjadi Salafy? menerima kesalafiyahan dengan lapang dada? kenapa yang selalu nampak adalah suuzhan kepada saudara seiman. Kenapa sulit sekali mencari Salafiyyin sejati padahal di sana ada orang lain yang mudah sekali menemukan seorang Salafiyyin yang baik akhlaknya.

Marilah kita bermuhasabah diri.
Logged

Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
renggap
Ahlussunnah
Blogger Salafiyyin
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 61


..:: Ebuddy ::..


WWW
« Reply #10 on: 19 July 2009, 05:28:36 PM »

Bismillah.

Ana cuma mau sdkt komentar thd thread ini, sbnrnya ana pribadi suka dgn thread ini, yg waktu ana baca judulnya ana sdh bs membayangkan isinya. ISi thread ini ana rasa berusaha untuk menggambarkan bgmn realitas kehidupan ikhwah salaf di dunia nyata, dan memang tdk dipungkiri hal2 diatas seringkali masih kita jumpai, pdhl asatidz dlm kajian ilmunya tdk pernah mengajarkan yg demikian itu, bahkan memperingatkan agar jauh2 dr sikap2 yg demikian (yg tertulis dlm poin per poin).

Ana rasa thread ini tidak bertujuan utk menjustifikasi atau melabelisasi bahwa ikhwah salaf sifat2nya demikian. Coba kita perhatikan jdl threadnya, disitu tersirat jg sbuah nasehat yg menurut ana sangat berharga, seolah2 jdl thread itu berkata, "jika antum seorg salafy, maka jangan punya sifat2 berikut", dan justru itu sangat bermanfaat bagi muhasabah diri2 kita. Bahkan lebih jauh lagi, thread ini berusaha mengklarifikasi bahwa salafy tidaklah identik dgn sifat2 demikian, karena kita mengkritik sifat2 dlm poin2 tersebut dan memasukkan dlm kategori "tidak nyalaf".

Ana blm paham dgn maksud akh Abu Harun bahwa menuliskan poin2 diatas dianggap sbg mengghibahi kaum muslimin (terkhusus salafiyyun). Karena yg ana lihat disana justru itu merupakan peringatan kpd salafiyyun scr umum agar tidak memiliki sifat demikian dan menjauh darinya. Ana yakin bahwa ikhwah yg menulis poin2 diatas tidak punya maksud sama sekali utk menyudutkan salafy, malah justru ingin memberi peringatan kdp saudaranya, secara umum, insya Allah.

Adapun nasehat yg diberikan oleh akh Abu Harun ana sangat setuju, walhamdulillah kajian2 Salafy banyak yg membahas ttg adab, bahkan insya Allah di setiap wilayah2 kajian selalu ada materi yg membahas ttg adab. Dan tentu saja supaya ikhwah salaf bisa terhindar dari sifat2 yg ditulis pada poin2 diatas.

Nah ana usul kalau kritikan akh Abu Harun (diatas) dijadikan satu poin tersendiri, yaitu :
"10. Tidak bersemangat dalam menuntut ilmu".
Setuju?

Allahu a'lam bishshawab, 'afwan jika ada salah kata.
Logged

Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Qalbii 'Ala Tha'atik...
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 11


WWW
« Reply #11 on: 21 July 2009, 12:36:19 PM »

Bismillah,

Point ke 10 ini justru lebih aneh dari yang lainnya, karena Salafiyyin sangat giat dan bersemangat dalam menuntut ilmu, dan ini menjadi ciri pembeda antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid'ah. Bagaimana mungkin hal ini dikatakan bahwa Salafiyyin tidak giat mencari ilmu ?? Dan ini adl seburuk-buruk ghibah terhadap kaum Muslimin.

Kembali saya ucapkan bahwa orang-orang yang "tidak nyalaf" tadi adalah mereka mungkin saja baru ngaji sehingga wajar saja kalau mereka langsung melecut ghirohnya. Bagaimana mungkin dikatakan orang yang baru ghiroh ini kurang semangat dalam menuntut ilmu, justru mereka sangat bersemangat sekali, akhi.

Dan orang yang baru ngaji ini, langsung dikritik habis-habisan sampai 10 point, aaah betapa teganya dirimu, kawan. Padahal mereka seharusnya didekati dalam pendekatan yang bersifat ta'lif, bukan dikiritik habis-habisan kaya gini.
Logged

Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 365



WWW
« Reply #12 on: 23 July 2009, 06:30:06 AM »

afwan kelihatannya akhy Abu Harun memahami topik yang diangkat di sini dari sisi yang agak berbeda dari yang lainnya. intinya yg dimaksud di sini bukanlah mencela manhaj salaf ataupun salafyin, tapi mengungkapkan beberapa 'kekhilafan' yang nyata yang mungkin perlu menjadi introspeksi sebagian ikhwah yang masih demikian. Dan bukan pula mengkritik ikhwah yang baru ngaji. Bukan itu maksudnya... Ana harap hendaknya kita saling husnudzhon bahwa intinya semuanya yang menulis di sini menginginkan hikmah dan kebaikan dengan apa yang dituliskannya. Baik akhy abu harun maupun yang lainnya, insya Allah.

Thoyib. Beberapa contoh saja dari ana bahwa 'kekhilafan' di atas memang masih dilakukan sebagian ikhwah (karena memang ikhwan salafy bukanlah seorang yang bebas dari kesalahan, sedangkan manhaj salaf itu pasti benar, maka itu di sini kita mengajak marilah salafiyyin bener-bener nyalaf). Contohnya apa dinyatakan sendiri oleh akhwat kita dari akhwat baru ngaji yang merasakannya, baca yang baru saja ia tulis disini: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/milis-akhwat/comment-page-9/#comment-5390

Contoh lainnya, lihat sendiri apa yg terjadi di milis an-nashihah ketika muncul tuduhan hizbi kepada ma'had anshorullah beberapa waktu lalu, yaitu ketika beberapa ikhwah (yg notabene udah cukup lama ngaji lho) menta'yin fulan dan ma'had nya adalah hizbi. Ketika dikonfirmasi, ternyata akhirnya jelas bahwa vonis itu dibangun ustadz yang ditanya di atas khobar keadaannya 1-2 tahun lalu. Sedangkan keadaannya saat ini tidaklah demikian, masya Allah bahkan kami bertemu langsung dengan ustadz Ahmad Fauzan ketika rombongan dari ma'had Cepu berkunjung ke madrosah Darussunnah beberapa hari lalu.

Contoh lain lagi, yaitu yang terjadi kami alami sendiri ketika awal mula merintis Darussunnah, bahkan kami menghadapi tahdzir yang berasal dari sebagian asatidzah. walhamdulillah ketika beliau semua (para ustadz yang berbeda pendapat) bertemu di dauroh syaikh tahun lalu maka telah diluruskan bersama. Juga yang terjadi di Solo, masih ada saling tahdzir antar ustadz dan ma'had salafy sendiri yang berbeda pendapat, HINGGA SAAT INI!

Juga masalah utang piutang, bahkan kami pribadi termasuk yang berkali-kali 'dikhianati' oleh ikhwah pengutang (yang sudah lama ngaji). Contoh nyata lain juga, kami pun mengenali beberapa ikhwah yng 'menghilang' dari majelis ilmu tanpa ada kejelasan dan kami tahu bahwa dia itu agak meremehkan majelis ilmu, padahal tadinya dia ikhwah yang sudah cukup lama mengaji.

Dan mungkin ada contoh2 lainnya, namun tidak perlu kita berpanjang lebar utk membahas itu. Contoh2 di atas apakah itu tuduhan kita ataukah kenyataan? itu kenyataan! Mungkin memang tidak terjadi di alam dakwah suatu daerah, masya Allah sungguh besar barokah dan nikmat dari Allah. Sedangkan di tempat lain masih ada yang mengalaminya, ini tidak bisa kita pungkiri, dan ini adalah cobaan dari Allah baik kepada individu yang melakukannya, yang menjadi korban, serta ujian bagi yang berjalan di atas dakwah ini. Dan tlg kita memahami, bahwa bukanlah kita menyatakan ini bermaksud utk membuka aib, mengghibahi, atau pun mencela salafy. Ana yakin tidak ada ikhwah yang menulisnya utk itu, karna apa faedahnya? Tapi ini kritik yang di dalamnya kita cantumkan nasehat dan koreksi berkenaan 'kekhilafan' yang terjadi itu. Di atas sama sekali ikhwah yang menuliskan itu tidak menyebut tunjuk hidung siapa yang demikian dan demikian, tapi terpaksa ana memberi contoh nyata sebagai penguat apa yang ingin ditunjukkan oleh nasehat yang dituliskan mereka. Hendaknya kita semua meletakkan permasalahan sesuai pada tempatnya dan semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah Nya kepada kita semua, sehingga kita saling mencintai di jalan Allah dan karena Allah. Wallahu a'lamu bisshowab.
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
yudhafi
Warga Baru
*
Offline Offline

Posts: 1


« Reply #13 on: 23 July 2009, 10:31:24 AM »

Bismillah,
Ana sependapat dengan akh abu harun, ana sendiri heran melihat Al-Ilmu yang makin lama makin jauh dari bimbingan asatidzah. Terlalu banyak jika mau dibuka di sini apa saja yang nyleneh dari Al-Ilmu, silahkan tanyakan pada Asatidz Jokja atau ikhwan di asysyariah untuk lengkapnya. Alahul musta'an
Apakah dengan tidak lagi dicantumkannya iklan Al-Ilmu dan nama Munajat di 2 edisi majalah Asysyariah terakhir tidak menjadikan pelajaran dan intropeksi bagi antum, dengan menanyakan pada diri antum sendiri kenapa ya?
Sunnguh kami bersedih, mau dibawa kemana AlIlmu oleh Munajat..yang mengaku tawaquf dalam permaalahan fitnah..namun nyatanya ikut menyebarkan fitnah melalui web dan radio streamingnya.

 

Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 365



WWW
« Reply #14 on: 23 July 2009, 07:41:36 PM »

ya akhy hendaknya antum tabayyun dan tatsabut dahulu sebelum melontarkan tuduhan maupun desas-desus yang tidak jelas kebenarannya, apalagi memfitnah ana seperti itu. silahkan langsung hubungi ana ataupun orang yang mengenal ana dengan dekat jika memang antum ingin penjelasan.

antum cantumkan saja di sini apa kata asatidzah jogja tentang ana dan apa kata ikhwah syariah tentang ana, tulis dengan jelas namanya disini dan apa katanya! ana akan akui jika memang ana salah, tapi ana akan jelaskan jika memang itu adalah tuduhan dusta maupun tuduhan tanpa hujjah yang haq.

tapi jika saja ana mau mengklarifikasi maka ana insya Allah bisa menuliskannya nanti disini. tapi menuliskan itu bukanlah sesuatu yang tidak melelahkan. ana tidak mau disibukkan untuk urusan ini, kecuali yang ingin mengetahuinya silahkan bertemu ana langsung. Antum ke jogja kan? kalau perlu antum dan ana ketemu dengan beberapa ustadz siapa yang kita percayai keilmuannya. ana insya Allah bisa menjelaskan dengan hujjah yang ana pegangi yang ana dapatkan dari penjelasan asatidzah yang ana berkonsultasi dengannya. Jika memang antum ingin cari kebenaran silahkan telpon ana 0817275237 dan kita bertemu di sela-sela dauroh masyayikh. ana bukan mengajak berantem lho, tapi kita saling menasehati dengan baik, bukan hanya melempar tuduhan atas dasar taklid. wallahul musta'aan... wallahul musta'aan... hanya kepada Allah kami mengadu dan Dia lah sebaik-baik hakim yang maha adil.
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
Pages: [1] 2   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: