Home
Help
Search
Calendar
Login
Register
Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
10 February 2012, 02:06:57 PM
Alhamdulillah forum ukhuwah telah online kembali, kini dapat diakses lebih mudah melalui WWW.AL-ILMU.US
Forum Ukhuwah Ahlussunnah
->
Topik Khusus Kajian Islam
->
Akhlaq & Adab
->
SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
Pages:
1
[
2
]
Go Down
« previous
next »
Send this topic
|
Print
Author
Topic: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...) (Read 5003 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
syahrian89
Warga Baru
Offline
Posts: 1
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #15 on:
23 July 2009, 08:28:04 PM »
Assalamu'alaikum
Diskusi terus, yang kanan bilang A, yang kiri bilang B, setan di tengah-tengah ngadu, kitanya merasa nggak sadar. Niat nasehat justru memperunyam keadaan. Allahu a'lam, ana mendukung thread ini di satu sisi, dan mendukung abu harun di sisi yang lain.
Syaikh Abdussalam bin Barjas punya kitab 'awaiquth thalab yang berisi kesalahan-kesalahan yang harus dijauhi oleh penuntut ilmu. Ana kira, kita pantas membacanya, untuk kemudian diamalkan. Wallahu a'lam. Untuk admin forum ini, masalah masa lalu jangan diangkat di muka umum, cukup antara antum dengan pihak yang terkait, jika sudah selesai ya sudah, jangan diungkit, meski untuk sebuah contoh. Wallahu a'lam. Forum ini dibuat untuk ukhuwwah kan? Jadi, hati-hati menggunakannya, atau setan merubahnya menjadi perusak ukhuwah. Wallahu a'lam...
Logged
abuhusain
Global Moderator
Warga Rajin
Offline
Posts: 71
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #16 on:
24 July 2009, 09:22:11 AM »
wa'alaykumussalaam warahmatullah.
Jazakallahu khair al akh Syahrian atas masukannya, menjadi nasehat buat kita semua.
Insya Allah tidak mengapa akh, yang penting kita diskusi bukan debat kusir, dan disampaikan dengan niat saling menasehati dan mencari kebenaran. Diskusi kita bukan dalam rangka mematahkan pendapat lawan bicara kita, tapi mari luruskan niat mencari kebenaran. Kita berusaha membiasakan diri mengemukakan pendapat dengan ilmiah, memiliki kaidah, dan hikmah. Kebenaran dari manapun berasal lebih berhak untuk diikuti, bahkan kami lebih senang jika kebenaran itu datang dari teman diskusi kami. Tidak ada yang bisa menjamin kebenaran itu selalu datang dari diri kita maupun seorang ustadz, tapi ia dikembalikan kepada hujjah yang sesuai kaidah dan dalil-dalil. Bahkan hendaknya kita bersikap tawadhu' dan hati-hati jika saja diri kitalah yang telah tersalah.
Kami tidak ada permasalahan dengan akhunal karim Abu Harun maupun lainnya yang berbeda pendapat dengan kami, uhibbukum fillah. Kami tidak ada keharusan memaksakan pendapat ataupun pemahaman kami. Kami pun tidak ada pencelaan kepada seorang pun di forum ini, kecuali jika memang pantas kami sampaikan dengan tegas karena ia sembarangan melontarkan tuduhan, tanpa bukti nyata/ilmiah namun hanya berlandaskan qiila wa qoola.
Mengenai masa lalu, maka ia semata-mata kami angkat agar menjadi ibrah, dan menjadikan kita bersyukur akan nikmat dari Allah memberi taufiq dan hidayah Nya kepada kita. Bukan dengan maksud lainnya. Tidaklah di atas kami menyatakan suatu kejadian kekeliruan masa lalu tersebut dengan suatu kebencian di hati kami, kecuali jika kekeliruan itu masih terjadi hingga saat ini. Itupun kita membencinya karena Allah, karena kita mencintainya maka kita berusaha menasehatinya. Bukanlah kita membencinya karena ia berselisih pendapat dengan diri kita.
Thoyyib, sekarang ana mau menanggapi tuduhan yang ditulis al akh Yudhafi, karena yang dituduh berhak membela diri.
1. Antum katakan ana/Alilmu semakin jauh dari bimbingan asatidzah, terlalu banyak (penyimpangan?) dan nyeleneh? Subhanallah... Apakah antum mengetahui keadaan kami? apakah antum bisa merinci berikut bukti dan alasannya di hadapan ana apa saja yang kami lakukan yang menyimpang dari manhaj salaf? apakah antum mengharuskan kami hanya berkonsultasi dengan ustadz tertentu saja dan harus mengambil pendapatnya? Ya akhy ketika antum melontarkan tuduhan keji ini maka antum wajib menjelaskannya kepada ana langsung, sebagai bagian dari kewajiban antum menegakkan hujjah dan nasehat sebelum menuduh. Ataukah antum semata-mata hanya mengikuti apa kata orang tanpa tabayun dan tatsabut?
Alhamdulillah kami terus berkomunikasi dengan asatidzah baik melalui chatting, sms, telepon, maupun ketika bertemu langsung. Antum bisa tanya di antara yang pernah berkomunikasi dengan kami dan kami sampaikan sedikit keadaaan kami, ke ustadz Dzulqarnain, ustadz Nashrullah, ustadz Yuswaji, ust Ahmad Fauzan, ust Abu Ahmad, ust Shodiqun, ust Abu Zakariya Risqi. Kami tidak taklid dan tidak mewajibkan diri kami untuk hanya mengikuti pendapat mereka maupun ustadz tertentu lainnya, baik yang kami bertemu dengannya maupun yang tidak. Maka cukup ini yang ana katakan untuk membantah tuduhan dusta dan fitnah antum ini.
2. Permasalahan yang lalu kami dengan asatidzah Jogja sudah kami jelaskan di:
http://al-ilmu.us/lain-lain-b32/live-kajian-dan-konsultasi-islam-di-radio-syiar-sunnah/
silahkan baca disana.
Alhamdulillah permasalahan sudah selesai waktu itu. Kami tidak tau jika masih ada lagi yang dipermasalahkan pada diri kami karena tidak ada sesuatupun yang sampai kepada kami, dan sejauh ini yang kami jalani insya Allah tidak ada penyimpangan dari manhaj salaf. Kecuali jika ada yang menganggap seorang itu menyimpang jika tidak mau mengikuti pendapatnya.
Kami pun masih sering berkomunikasi dengan ustadz2 yang lainnya. Kami berpendapat bahwa tidak harus seseorang itu mengikuti pendapat ustadz-ustadz di tempatnya berdomisili, karena suatu pendapat itu bukan diukur dari daerah mana ia berasal tapi dari hujjah yang bersamanya. Bukanlah yang kami maksudkan bahwa asatidzah Jogja telah berpendapat dengan kesalahan yang fatal, tapi kami melihat dan memegang mana di antara pendapat yang baik itu yang lebih dekat pada kebenaran sesuai ilmu yang ada pada diri kami. Mereka tetaplah asatidzah kami yang mulia, kami tetap bersimpuh mengambil ilmu di hadapannya dengan menghadiri kajian-kajian mereka, juga kajian asatidzah lainnya melalui apa yang telah dimudahkan oleh Allah kepada kami. Dan kami bebas dari diharuskan mengikuti pendapat ustadz A atau ustadz B, ustadz Jogja atau ustadz Jakarta, ustadz dari Madinah atau ustadz Yaman. Ketika kami mengambil pendapat yang satu maka bukan berarti serta merta kami telah memusuhi dan membenci yang memiliki pendapat yang lain, tapi permusuhan dan kebencian itu tergantung dekat atau jauhnya ia dari kebenaran, sesuai ilmu yang Allah telah pahamkan pada kami. Inilah prinsip dan kaidah yang kami pegang. Lantas ketika kami berbeda pendapat, apakah antum akan membantah dengan perkataan yang sama seperti apa yang diucapkan salah seorang ustadz kami yang dengan sombongnya telah membantah prinsip kami ini dengan mengejek kami di hadapan sekian banyak ikhwah dengan berkata, "memangnya ente ini siapa? memangnya ente bisa menentukan mana pendapat yang rojih?". Laa haula walaa quwwata illa billah, ma'assalamah... Semoga Allah senantiasa memberi taufiq dan hidayahnya kepada antum, kami dan kita semua.
3. Adapun dengan ikhwah di majalah asy-syariah, alhamdulillah kami berhubungan baik dengan mereka. sampai saat ini kami masih menjual majalah asy syariah dan bukan majalah hizbiyin ataupun yang menyimpang, silahkan lihat sendiri di toko kami. Kami pun membayar semuanya sesuai harganya tanpa ada masalah.
Terus terang yang kami ketahui bahwa iklan kami bukanlah ditolak tapi memang kami telat memasukkan materi dan sudah penuh. Dan baru saja kami ketahui bahwa nama kami memang dihapus, ternyata atas arahan ustadz Qomar berdasar permintaan beberapa ustadz, tapi kami belum mengetahui rincian alasannya. Kami tidak melihat dari siapa keputusan itu diambil, tapi yang lebih penting apa alasannya kami belum diberi tahu. Semoga mereka benar-benar memiliki hujjah di sisi Allah dan tidak mendzholimi saudaranya tanpa hak. Jika pun ternyata tidak demikian, maka kami telah ikhlas memaafkan mereka. Kami tidaklah merasa sesak dada maupun sempit hati atas kejadian ini, karena apa yang kami jalani insya Allah jelas dan gamblang hujjahnya di sisi kami yang kami dapati dari nasehat para asatidzah juga. Hanya kepada Allah kami memohon dan minta pertolongan dalam urusan ini, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dan Dia mengabulkan doa orang yang terdzholimi.
Jika memang ada nasehat bagi kami terkait ini, maka itu belum sampai pada kami dan kami menunggunya dari mereka langsung. Jika ada ikhwah yang langsung bersikap seperti menjauhi, menghajr, dan mentahdzir kami karena arahan beberapa ustadz untuk itu, maka silahkan saja, semoga ia memiliki alasan di sisi Allah kelak. Sedangkan kami berlindung kepada Allah dari sifat taklid, namun kami berprinsip bebas mengambil atau tidak suatu pendapat/nasehat tergantung kesesuaiannya pada kebenaran yang kami lihat padanya atau pada pendapat/nasehat lainnya, dengan memohon taufiq dan hidayah dari Allah.
Beriklan atau tidak di majalah asy-syariah, dicantumkan atau tidak namanya di majalah asy-syariah, maka itu bukanlah ukuran kebenaran bagi kami. Bukan pula ukuran untuk mengeluarkan seseorang dari manhaj ahlussunnah, bukanlah pula ukuran untuk menjauhi, menghajr, atau mentahdzir seseorang. Tapi yang penting adalah apa alasan atau hujjahnya.
4. Kami bersikap tawaquf dalam masalah fitnah Yaman dan berusaha menepati apa yang dinasehatkan asy-Syaikh Robi' hafidzhahullah, dan asatidzah yang kami lihat lebih sesuai dengan nasehat beliau.
Jika antum mengharuskan kami ikut mencela, menghajr, dan mentahtdzir, Dammaj, syaikh Yahya, masyayikh lain dan asatidzah yang bersamanya maka afwan kami berbeda pendapat dengan antum.
Jika antum mengharuskan kami mencela, menghajr, dan mentahdzir syaikh Abdurrahman al Mar'i, masyayikh lain dan asatidzah yang bersamanya, maka afwan kami berbeda pendapat dengan antum.
Kami melihat dan mengakui bahwa kebenaran di satu sisi ada pada pihak yang satu dan di sisi lain berada di pihak yang lain, dan kami melihat dan mengakui pula bahwa kekeliruan ada di pihak yang satu dan di sisi lain juga berada di pihak yang lain. Karena memang kebenaran maupun kekeliruan itu sifatnya tidaklah selalu bersama seseorang senantiasa, dan tidak ada yang bisa menjamin. Tapi dalam hal ini, diam dari itu semua adalah jalan yang lebih selamat menurut kami dan lebih sesuai nasehat asy-Syaikh Robi'. Semuanya sesuai ilmu yang Allah pahamkan kepada kami sesuai keadaan yang kami ketahui, wallahu a'lam.
Kami mengutip, mengambil faedah, dan menyiarkan apa saja dari kedua pihak selama itu yang mengandung ilmu, pembahasan ilmiah, dalam masalah syariat ini secara umum. Bukan yang berisi pembahasan hal-hal yang seputar fitnah, bukan membahas pembelaan maupun bantahan atas pendapat yang sedang diperselisihkan, bukan pula berisi celaan, hajr dan tahdzir (baik itu nyata maupun tuduhan) seputar masalah yang menjadi fitnah antara satu dan yang lain.
Demikian yang dapat kami sampaikan menanggapi apa yang antum tuduhkan, dan kita memohon kepada ALlah taufiq dan hidayah. Tread ini kami kunci saja agar tidak berpanjang lebar, tapi jika ada usulan lain silahkan PM ana atau buat tread baru. Jazakumullahu khairan.
«
Last Edit: 28 July 2009, 06:59:25 PM by abuhusain
»
Logged
Darussunnah
Global Moderator
Warga Setia
Offline
Posts: 176
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #17 on:
25 July 2009, 12:33:10 PM »
Al Akh Yudhafi baarokallohufiik, antum dengar tidak kajian kemaren sore di al Anshor Jogja oleh syaikh Al Bukhari? masya Allah isinya ternyata nasehat yang cukup keras kepada asatidzah dan ikhwah yang masih serampangan dalam penerapan hajr dan tahdzir kepada saudaranya ahlussunnah lantaran suatu perbedaan pendapat. Keadaan fitnah, hajr, tahdzir dari sebagian ustadz kepada ustadz2 lain (yg beda pendapat darinya) saat ini tampaknya sudah sampai kepada syaikh hafidzhahullah, dan memang sifat-sifat seperti antum dan lainnya seperti itu memang perlu dinasehati.
Mari sama-sama kita luruskan niat mencari kebenaran, tawadhu' dan jangan merasa aman dari makar Allah, jangan menjadi sombong dengan pendapatnya lalu mengilzamkan kepada saudaranya harus mengikuti pendapatnya (padahal belum tentu benar) atau jika tidak ikut maka ia jauhi, hajr, tahdzir. Wallahul musta'aan.
Logged
abu yazid
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 6
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #18 on:
27 July 2009, 02:52:27 AM »
thoyyib, ana ga mau nimbrung dlm perselisihan pendapat yang harusnya tidak terjadi. untuk itu ana mau nambahin thread ini tapi dengan makna lain dan lebih global menjadi
"hal yang harus dihindari muslim yang ingin mengikuti jejak salaf"
11. suka berselisih
Secara mujmal berselisih adalah dilarang. Walaupun demikian banyak ikhtilaf yang masih dalam koridor syar'i seperti ikhtilaf bainal ulama.
Namun yang sering ana lihat baik dalam keseharian maupun dalam tulisan masih banyak ikhwan yang justru "sadar atau tidak" malah memancing atau mudah terpancing hingga masuk dalam perselisihan malah jadi bermusuhan.
Masing2 pasti mengatakan "ana/kami punya dasar". Naam, tafadhol jika itu telah layak masuk dalam wilayah ilmiyyah. Tapi yang kok justru menonjol adalah kebencian dan kata2 yang keras, di depan umum pula (telah ada di point sebelum ini, jazakillah pencerahannya) dan -na'udzubillah menjadi permusuhan sesama ahlu sunnah.
Pertanyaan besarnya "kenapa niat menasehati dengan ilmu dan kasih sayang sesama muslim/salafiyun menjadi pertengkaran dalam kebencian ? "
Wallahul musta'an
mohon koreksi jika ana salah (selalu)
Logged
abu yazid
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 6
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #19 on:
27 July 2009, 03:42:34 AM »
nambah ya..
12. Tidak mau kembali pada kebenaran ketika kesalahan, keraguan atau kekeliruannya terjawab.
Ini jelas penyakit hizbi atau muqollid (semoga kita terhindar dari sifat ini). Beberapa penyebabnya adalah tidak sering muhasabah (introspeksi) dan ta'ashub pada ulama, ustadz atau kelompoknya saja. Sebab lain adalah sudah puas (bahkan terlalu pede) dengan keyakinan, ilmu atau informasi yang dia dapat. masih banyak sebab yang lain, namun yang jeas hal ini mesti dihindari semaksimal mungkin, karena bertentangan dengan hakikat mencari ilmu (kebenaran).
Logged
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 11
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #20 on:
27 July 2009, 12:51:24 PM »
Bismillah,
Ana setuju dengan judul ini, memang sedari awal yang ana kurang sependapat adalah judulnya. Judul aslinya lebih bersifat menjustifikasi. Sedangkan usulan judul ini lebih kepada nasihat dan itu yang kita inginkan.
Yang Harus Dihindari Oleh Setiap Muslim yang Ingin mengikuti Jejak SalafuS Shalih.
Silahkan ditambahkan point-pointnya, insya Allah menjadi nasihat untuk kita semua, Ahsan dengan menggunakan dalil. Barokallahu fiik
Logged
Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 15
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #21 on:
27 July 2009, 01:35:04 PM »
Alhamdulillah atas masukan buat judulnya. Sebetulnya yang saya inginkan dari thread ini adalah adanya kritik internal buat kita, muslim sunni salafi, sehingga kritikannya pun lebih menyempit. Jika kita ingin membahas ahlaq dari kaum muslimin secara umum tentu amat luas dan melebar. Satu contoh, dalam bahasan ahlaq secara umum kita bisa mengkritik masalah isbal yang masih banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Akan tetapi hal ini tentu tidak tepat jika dialamatkan kepada kita karena mayoritas kita mengetahui dan mengamalkan pakaian yang tidak isbal. Maka kritik internal adalah sesuatu yang mungkin karena alpa, tidak merasa atau karena terbiasa, sehingga menyebabkan kita berbuat yang tidak sesuai dengan manhaj salaf. Hal ini sangat perlu sebagai bahan perbaikan bagi diri kita. Tentang judul terserah Anda, yang penting isinya kurang lebih begitu lah.
13. Kurang Sabar dalam Menasehati
Poin ini sebetulnya sempat disinggung dalam dauroh masyayikh kemarin. Terkadang ada diantara kita yang baru memberi satu dua patah kata dalam mengingatkan kesalahan seseorang sudah buru-buru memvonis. Vonis ahlul bid'ah, ahlul ma'ashy, maupun gelar-gelar buruk lainnya. Vonis tersebut tentunya makin menjauhkannya dari kebenaran dan makin menyulitkannya untuk bangkit dari kesalahan. Bagi orang tipe ini, dia merasa puas ketika obyek da'wahnya terjerembab kedalam kesalahan. Da'wah yang dilakukan malah menjauhkannnya dari manhaj salaf, dengan 'topeng' mengajak kepada kebenaran. Yang seharusnya, dia berusaha dengan sekuat tenaga mengingatkan saudaranya dengan kasih sayang, teguran, dengan buku, cd, kaset, dialog, menghadirkan ustadz dll. Tidak lupa pula mendo'akan kebaikan baginya. Berbagai vonis/tahdzir dlakukan ketika sudah bener-bener mentok dan pertimbangan yang matang dengan dikonsultaiskan kepada ustadz. Ini juga dilakukan dalam kerangka kasih sayang,agar mau kembali kepada kebenaran.
14. Kurang Ramah, Kurang dalam Adab Bertamu dan Menerima Tamu
Ada sebagian muslim yang menilai kita ada yang kurang ramah. Hal ini harus diakui karena kadang kita melihat seorang salafi yang wajahnya terlihat tegang terus. Bertemu dengan sesama muslim enggan menunjukkan senyum, wajah ceria dan enggan mengucap salam. Mungkin kita nggak merasa. Saya pernah nanya kepada mantan aktifis sebuah organisasi 'tradisional', bagaimana dulu ketika belum ikut salafi melihat kepada saya? Katanya dia merasa takut kalau ketemu, mau mengucap salam juga takut. Ini satu contoh. Seandainya kita mau bersikap ramah, menebarkan salam, menebar senyum (pada tempatnya lho, kan tabassamuka fii wajhi akhika laka shadaqah), insya Allah akan beda penilaiannya.
Dalam masalah bertamu kita juga kadang kurang baik.
Pernah ada ikhwan, sebutlah A, janjian ketemu sama B. Akhirnya mereka janji ketemu di rumah saya. Si A nunggu di rumah saya, datanglah B bersama C naik mobil. Begitu mereka (B dan C) turun dari mobil, mereka langsung membuka mobil, mengambil barang-barang punya A dari tempat saya, TANPA MENYAPA SAYA SEBAGAI TUAN RUMAH, BAHKAN TANPA SALAM.
Akhirnya justru saya yang mendekat kepada mereka (B dan C), memberi salam dan menyodorkan tangan saya untuk salaman.
Habis mereka pergi, saya cerita dengan istri saya dan istri saya ngedem-ngedemi barangkali mereka lagi sibuk diburu waktu sehingga tidak menyapa tuan rumah. Seandainya itu terjadi di tuan rumah orang awam atau aktifis harokah, akan bertebaranlah di internet tulisan berjudul,"Salafi Nggak Beradab dalam Bertamu". Saya berpikir,"Ada bahan perbaikan untuk forum al ilmu nih..."
«
Last Edit: 28 July 2009, 09:52:19 AM by abu haidar mohammad
»
Logged
Darussunnah
Global Moderator
Warga Setia
Offline
Posts: 176
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #22 on:
28 July 2009, 08:49:32 PM »
15. Baru saja dengar kajian ustadz Muhammad, beliau mengutip ucapan Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah ketika melihat pemuda yang sombong dengan ilmunya; "Sesungguhnya salaf tidaklah demikian, tidaklah salaf menjadi imam (duduk menyampaikan ilmu di tengah manusia) kecuali setelah menuntut ilmu selama 30 tahun!"
Logged
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 15
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #23 on:
28 July 2009, 10:32:37 PM »
16. Ada yang Suka Menyebarkan Kesalahan Saudaranya
Perhatikan petikan nasehat Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Walid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah wa ra’ahu:
"...Maka wajib atas kalian untuk bersikap lembut.
Barangsiapa yang terjadi darinya kesalahan, maka hendaknya ia dinasehat dengan hikmah dan kelembutan. Bukan dengan cara tasyhir (mengumumkan kesalahannya), dll
Lakukan tanashuh (saling menasehati) di atas ukhuwwah dan mahabbah karena Allah."
Apa yang dilakukan oleh sebagian saudara kita terhadap saudaranya yang lain?
Dalam dauroh atau kajian, terkadang kita dapati pertanyaan:
"Ada seorang akhwat salafi, tetapi dia masih ngajar bahasa Inggris di SMA dihadapan laki-laki..."
Atau,
"Di tempat kami ada ustadz, tetapi dia masih ada ikatan kredit di bank, sementara istrinya dua memerlukan ..."
Atau dalam bentuk kejadian, seorang salafi tetapi sedang terkena fitnah hizbiyyah. Dalam saat yang sama kita tahu bahwa dia (salafi tersebut) pernah bersikap kasar (memukul) seseorang sampai berdarah. Akhirnya disebarkan kesegala penjuru tentang kejadian itu, melengkapi "da'wah" kita tentang penyimpangannya.
Kasus pertama, Akhwat yang ngajar bahasa inggris. Ketika disampaikan dalam forum kajian yang dihadiri oleh akhwat tersebut dan segenap ikhwan/akhwat lain, ketika pertanyaan itu dibaca tentu saja ikhwan/akhwat yang satu daerah dengan akhwat yang ngajar bahasa Inggris tersebut akan tahu bahwa yang dimaksud dalam pertanyaan adalah akhwat tersebut. Akhwat itu tentu akan malu luar biasa, enggan ngaji dsb. Padahal bisa jadi akhwat tersebut sangat terpaksa ngajar, tahu bahwa itu adalah keliru dan sedang berjuang melepaskan diri darinya. Seharusnya kita (yang Akhwat) membantu dia, berdialog, mencarikan solusi... Bukan malah bertanya dalam majelis yang sebetulnya kita juga udah tau jawabannya.
Kasus kedua, Ustadz yang kredit bank. Ketika disampaikan diforum, dengan ciri-ciri kredit bank dan istri dua, ikhwan/akhwat yang banyak mengenal akan berkesimpulan bahwa itu adalah si fulan. Yang tidak tahu akan bertanya,"siapa yang dimaksud?". Yang tahu menjawab, dan akhirnya makin tersebar aib ustadz tersebut. Padahal bisa jadi ustadz tersebut sekedar meneruskan cicilan dari ortunya atau ada sebab lain dan dia sendiri sedang berjuang habis-habisan dengan darah dan airmata untuk bisa keluar dari jeratan kredit. Bukannya kita mbantu malah menyebar aib...
Kasus ketiga, salafi yang kasar. Betul bahwa dia harus dinasehati dalam fitnah yang ada. Tetapi kenapa diungkit-ungkit perbuatan masa lampaunya? Apalagi jika ternyata dia menyesali perbuatannya. Jika ternyata dia sudah taubat, tidak berhak kita membuka aibnya.
Ikhwah fillah, itulah realitas kita. Banyak ungkapan keburukan yang tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah/manhaj. Lebih parah lagi kalau yang dicela adalah pekerjaan yang halal tetapi kita pandang rendah, seperti tukang cor bangunan atau pemulung (pencari sampah), sebagai bagian dari celaan. Banyak diantara kita yang suka jika aib saudaranya tersebar. Sangat perlu dikoreksi keikhlasan orang yang suka menyebar aib saudaranya dalam "da'wah" yang dia lakukan. Apakah benar karena mahabbah fillah? Apakah benar karena Allah dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya (atau ingin menjatuhkannya)? Apakah benar bagian dari ukhuwwah?
Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
Offline
Posts: 365
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #24 on:
29 July 2009, 06:18:15 AM »
Menanggapi poin 16 di atas. Tentunya yang dimaksud adalah janganlah kita menyengaja mengangkat suatu hal yang itu menjadi aib, dengan tujuan hanya dalam rangka menjatuhkan saudaranya. Yaitu sengaja mengajukan pertanyaan tersebut untuk mendapatkan kesimpulan hukum yang akan digunakannya dalam memvonis saudaranya yang tersalah, padahal ia sudah tau hukumnya dan sudha tau jelas keadaannya.
Tapi mungkin perlu dirinci keadaan khusus yang lain, yaitu kalo memang itu adalah suatu hal yang menjadi syubhat baginya atau ia bingung akan hukumnya. Maka insya ALlah tidak mengapa menanyakannya kepada yang lebih berilmu tetapi dilihat keadaannya apakah layak di suatu majelis ataukah bertanya langsung kpd ustadz. Jika permasalahannya membawa mudhorot secara umum atau telah ada syubhat yang menyebar di banyak ikhwah bahkan orang yang tersalah ini tidak mempan dinasehati langsung maka insya Allah tidak mengapa menanyakannya di majelis sehingga diharapkan jawaban ustadz dapat menolak mudharat dan syubhat yang tersebar. Tapi tentu saja yang dari pertanyaan maupun jawabannya tetap tidak perlu mengandung ta'yin namun hanya pembahasan secara rinci menyangkut masalahnya saja, bukan tunjuk hidung personnya (karena untuk ta'yin tentu harus melalui tahapan-tahapan lebih rinci).
Sekali lagi kami ingatkan kepada ikhwah, biasakan diri bersikap kritis dan jauhi dari sikap taklid akan jawaban ustadz. Kita bertanya bukan menjadikan figur penjawab itu sebagai penguat hukum yang terkandung di dalam jawaban, tapi kita memperhatikan hujjah yang bersama jawaban itu apakah sesuai kaidah dan dalil-dalil. Apalagi di masa fitnah, bukan tidak mungkin sekalipun ustadz maka ia dapat tersalah dalam berijtihad ketika menjawab suatu permasalahan, maka jawaban yang demikian tidak berhak untuk kita ambil karena kebenaranlah yang lebih berhak untuk diikuti. Dan ketika kita tidka mengambil jawabannya maka kita harus mampu pula mendatangkan hujjah sebagai bukti bahwa kita memegang pendapat yang berbeda di atas ilmu pula bukan sekedar membeo pendapat ustadz yang beda pendapat.
Wallahu a'lam.
Logged
-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi
http://al-ilmu.com
abu yazid
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 6
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #25 on:
31 July 2009, 09:10:31 AM »
Walhamdulillah sejauh ini ana bisa mendapat manfaat dari antum di thread ini, paling tidak dapat mengerti dan bisa memahami apa yang masing2 kita dapat dari para ulama atau asatidzah.
Ana ingin tambahkan. Semoga ini point tersendiri dari 16 point yang posted (ada yang perlu dikritisi barang kali ? )
17. Merasa eksklusif dan merasa lebih 'alim dari kaum muslimin kebanyakan.
Point ini ana ambil dari pengamatan ana terhadap sikap salafiyyin (munkin juga ana) di tengah pergaulan sehari-hari dengan masyarakat yang seharusnya menjadi Mad'u.
Kenapa belum apa-apa kita menjaga jarak dengan kaum muslimin yang belum menuntut ilmu di atas manhaj yang haq ? Hadist "al mar'u 'ala diini kholili" di ke depankan dengan dalih berjaga-jaga padahal kenal pun belum apa lagi dekat...Allahul Musta'an.
Na'am, hati berbolak balik ketika kita lengah jika berada di antara mereka sementara ada yang mereka langgar seperti ada musik, ikhtilat, tidak menutup aurat dengan sempurna dll. Tapi bukankah itu mereka lakukan di atas kebodohan alias mereka tidak tahu, seandainya pun mereka tahu tapi sekedarnya, bukan benar2 menolak kebenaran atau sengaja melanggar keyakinan mereka. Atau bukankah masih ada waktu dan prioritas lain yang bisa dimanfaat agar kita bisa dakwah kepada mereka tentang Islam yang haq dan rahmat bagi segenap alam.
Naam, banyak bid'ah yang mereka lakukan. Namun ini tidak serta merta membolehkan kita langsung mencap mereka sebagai ahlul Bida' sehingga harus jaga jarak. Khususnya di indonesia yang bahasanya berbeda dengan Al Quran, kebanyakan ilmu belum datang pada mereka, apalagi iqomatul hujjah pada mereka atau pembesar2 mereka. Pembesarnyapun kebanyakan muqollidun yang rela membela ahlul bid'ah. Bid'ah yang mereka terima adalah turun temurun (seperti ana dahulu). Kebanyakan mereka BELUM seperti Harist al muhasibi, jahm bin shofwan atau yang terakhir yusuf qordhowi dkk. maka jangan sampai terjadi karena kita tidak menyampaikan Al Ilmu bil hikmah wal mauidhotil hasanah.
Kalau tidak salah ingat Fadhilatusy syaikh Utsaimin rahimahullah pernah mengingatkan kita tentang hal ini.
Ada lagi di cyber space, beberapa kali ikhwan yang ghiroh-nya lebih tinggi dari ilmunya menyampaikan al haq dengan terburu-buru. Mungkin dikiranya, lawannya lebih rendah "bacaan"nya. Ketika disambut hizbi dosen IAIN dengan berbagai hadist dan judul kitab, kontan tak berdaya dan futuuuurr..nau'dzubillah.
Afwan, ini sekedar
pengamatan ana
. mohon koreksi jika salah atau berlebihan.
Wallahu a'lam bi showab
Logged
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
Offline
Posts: 15
Re: SALAFI yang TIDAK 'NYALAF' (Kumpulin Yuuk...)
«
Reply #26 on:
31 July 2009, 02:50:07 PM »
Masih berkaitan dengan sikap eksklusif, Al Ustadz Ahmad Yuswaji pernah memberikan kritik atau nasehat kepada ikhwah untuk jangan eksklusif. Ketika berkumpul dalam forum misalnya, jangan ngumpul yang salafi sendiri nggak membaur dengan masyarakat umum.
Sayang sekali hal ini (karena mungkin belum terbiasa) belum dilaksanakan secara baik. Ketika ada kematian anak seoerang ikhwan misalnya, yang salafi nggak duduk bareng dengan tetangga sekitar tetapi ngumpul sendiri. Pernah saat itu ada pak Camat datang, ikhwan ditempat kematian itu malah ngobrol sambil tertawa dan ada yang nyalami pak Camat sambl tetap ngobrol tanpa melihat wajah pak Camat (ini berkesan menyepelekan). Pak camat duduk sebentar dan kemudian mencari tempat duduk yang lain. Saya yang melihat rasanya sedih, kemudian mengingatkan ikhwan tsb u/ menghormati penguasa dan muslim yang lain.
SIkap membaur dengan masyarakat, sabar terhadap cercaan dan gangguan mereka, dengan tetap menjaga nilai-nilai syar'i lebih baik daripada sikap eksklusif (menyendiri, bener untuk sendiri). Ia juga akan berdampak positif bagi kedewasaan sikap, meningkatnya keteguhan iman dan juga bagi da'wah itu sendiri.
Logged
Pages:
1
[
2
]
Go Up
Send this topic
|
Print
« previous
next »
Jump to:
Please select a destination:
-----------------------------
Seputar Forum AL-ILMU.US
-----------------------------
=> Petunjuk Forum AL-ILMU.US
=> Pengumuman Forum AL-ILMU.US
=> Lain-Lain
-----------------------------
Topik Umum
-----------------------------
=> Pemberitahuan & Pengumuman
=> Informasi & Promosi
=> Ilmu Pengetahuan & Teknologi
=> Bisnis, Wirausaha, dan Pekerjaan.
=> Kesehatan, Rumah dan Lingkungan
=> Seputar Dunia Islam
=> Lain-lain
-----------------------------
Topik Khusus Kajian Islam
-----------------------------
=> Aqidah & Manhaj
=> Fikih Ibadah
=> Kewanitaan/Muslimah
=> Firqoh & Bid'ah
=> Akhlaq & Adab
=> Pernikahan & Keluarga
=> Bahasa Arab
=> Al Qur'an & Al Hadits
=> Siroh & Teladan
=> Lain-lain
=> Pojok Download
=> Info Dakwah
-----------------------------
Ruang Interaktif Toko AL-ILMU.COM
-----------------------------
=> Petunjuk & Pengumuman AL-ILMU.COM
=> Informasi Produk
=> Administrasi & Pembayaran
=> Pengaduan & Permasalahan
=> Proses Pelayanan Order
=> Lain-Lain
-----------------------------
Fasilitas Website Lainnya
-----------------------------
=> SALAFY.WS
=> DARUSSUNNAH.OR.ID
===> Radio Syiar Sunnah
=> AL-ILMU.BIZ
=> AL-ILMU.NET
===> Petunjuk & Pengumuman AL-ILMU.NET
===> Informasi Materi
=> AL-ILMU.INFO
=> AL-ILMU.ORG
=> AL-ILMU.WEB.ID
=> AKHWAT.WEB.ID
=> KIOSHERBAL.COM