|
Zain
|
 |
« on: 24 May 2010, 10:32:29 AM » |
|
VIVAnews - Dua tahun ke depan, diproyeksi kandungan lokal pada ponsel China meningkat, bahkan lebih besar ketimbang kandungan asing alias impor.
Hal ini menyebabkan harga ponsel China, atau sering disebut ponsel merk lokal, menjadi turun karena banyak rantai distribusi dihilangkan dan beberapa pengeluaran yang tidak perlu diminimalisir.
Proyeksi tersebut diungkapkan Chief Sales Officer PT Indosat Tbk (Indosat) Syakieb A Sungkar saat diwawancarai VIVAnews di Jakarta, Selasa 23 Maret 2010.
"Jika dua tahun ke depan, vendor (ponsel) lokal bisa meningkatkan komponen lokalnya lebih banyak, saya kira harganya akan lebih terjangkau. Di tahun itu, masih ada jaminan beli oleh pasar," tutur Syakieb.
"Sekarang ini, kandungan asingnya masih lebih tinggi. Ini memakan biaya yang menyebabkan harga ponsel masih mahal," tandasnya.
Lebih lanjut, Syakieb menyarankan, agar para vendor ponsel merk lokal lebih agresif mencari jalan cerdas agar produk-produk mereka tidak mahal.
"Seperti SkyBee yang mengatakan, di tahap awal memakai pihak ketiga, tapi nanti secara perlahan-lahan bisa bikin sendiri. Itu kan berarti mereka punya eager (hasrat) untuk merintis," terang Syakieb.
Menurutnya, vendor-vendor ponsel lokal bisa membangun pabrik di sini. Sementara operator, pengembangan, dan content provider (CP) terus mendukung dari belakang sebagai penyedia konten dan aplikasi pada ponsel-ponsel mereka.
"Saya kira, kalau nanti marketnya besar, perlahan-lahan mereka akan bangun pabrik sendiri. Komponen-komponennya pun bisa bikin sendiri," ucap Syakieb.
"Sama halnya seperti chip. Dulu kandungan satu chip semuanya asing. Sekarang, software dan bodi chipnya pun dibuat di Indonesia. Seharusnya, ponsel-ponsel lokal itu juga bisa," tambah dia.
Indosat sendiri, sejak tahun lalu hingga hari ini, mengaku telah bermitra dengan 10-15 vendor ponsel merk lokal atau ponsel China di Indonesia.
• VIVAnews
|