Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

09 February 2012, 08:26:53 AM

Ahlan wa sahlan, bagi pengunjung bisa mendaftar di sini, manfaatkan fasilitas Forum Alilmu untuk menjalin ukhuwah dengan ikhwah dari berbagai daerah, mari berbagi faedah dan saling menasehati di atas sunnah. Masih banyak tema diskusi menarik lainnya di dalam forum setelah antum login nanti.


Pages: [1]   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: Imam Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi  (Read 2245 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Zain
Warga Rajin
***
Offline Offline

Posts: 69



WWW
« on: 27 May 2010, 05:15:09 PM »

Nama, Garis keturunan, dan nisbat yang dimilikinya:

As-Sayuthi nama lengkapnya adalah Al-Hafizh Abdurrahman ibnu Al-
Kamal Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiq ad-Din Ibn Al-Fakhr Utsman bin
Nazhir ad-Din al-Hamam al-Khudairi al-Sayuthi. Penulis Mu’jam al-Mallifin
menambahkan: Athaluni al-Mishri Asy-Syafi’i, dan diberi gelar Jalaluddin,
serta di panggil dengan nama  abdul Fadhal.

Ia berasal dari keturunan non arab, yang dalam hal ini asy-sayuthi sendiri
pernah mengatakan:”Ada seorang yang bisa saya percaya pernah
menuturkan kepada saya, bahwa dia pernah mendengar  ayah saya
mengatakan bahwa kakek buyut ayah adalah orang non arab dari timur.
Ia menghubungkan garis keturunannya demikian: ”Kakek buyut saya
adalah Damam ad-Din, seorang ahli hakikat dan guru  tarekat. Darinya
lahir tokoh-tokoh dan pemimpin, antara lain ada diantara mereka yang
menjadi kepala pemerintahan di daerahnya, ada pula  yang menjadi 
Hakim Perdata, dan ada pula yang menjadi pedagang. Namun tidak ada
seorangpun diantara mereka yang saya ketahui menekuni ilmu secara
sungguh-sungguh kecuali ayah saya.
 
Kelahiran dan pertumbuhannya: 

As-sayuthi dilahirkan di wilayah Asyuth sesudah magrib pada malam
ahad, bulan Rajab 849 H, begitulah ia mengatakannya sendiri,  dan para
sejarawan sepakat tentang tahun kelahiran ini, kecuali ibnu Iyas dan
Ismail Pasha al-Bagdadi yang menganggap bahwa kelahiran as-Sayuthi
adalah pada bulan Jumadil akhir. Ia dibesarkan dalam keadaan yatim
piatu. Ayahnya meninggal dunia pada malam senin, 5 Safar 855 H, pada
saat ia masih berusia 6 tahun.
 
Perjalanan dan masa menuntut ilmu:
Pada usia yang amat sangat muda ia  telah hafal Al-Quran, dan hafalan ini
menjadi sempurna betul ketika ia menginjak usia 8 tahun. Setelah itu ia
lanjutkan dengan menghafal kitab-kitab semisal al-‘Umdab, Minhaj fiqh,
Al-Ushul, dan Al-fiyah ibn Malik.

Selanjutnya ia menekuni berbagai bidang ilimu dan saat itu usianya baru
menginjak usia 16 tahun, yakni pada tahun 864 H. Ia mempelajari Fiqh
dan Nahwu dari beberapa guru, dan mengambil ilmu Faraid dari ulama di
jamannya yakni Syeikh Syihab ad-Din asy-Syarmasahi, lalu menimba ilmu
Fiqh kepada syeikhul Islam Al-Balqini sampai yang disebut terakhir ini
wafat, dan dilanjutkan oleh putranya ‘Ilmuddin Al-Balqini. Ia kemudian
berguru kepda Al-Ustadz   Muhyiddin Al-Kafayaji selama 14 tahun. Dari
ulama ini ia menyerap ilmu Tafsir dan Ushul, bahasa  dan ma’ani, lalu 
menyusun buku-buku ringkas tentang ilmu-ilmu ini.
Ia banyak melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, antara lain ke kota
Al-Fayun, Al-Mihlah, Dimyat, lalu menuju Syam dan Hijaj, dan seterusnya
ke Yaman, India dan al-Maghrib (Maroko).
As-Sayuthi kemudian dikenal dengan orang yang begitu dalam ilmunya,
dalam tujuh disiplin ilmu : Tafsir Hadist, Fiqh , Nahwu, Ma’ani, Bayan dan
Badi’, melalui para ahli bahasa dan Balaqhah.
 
Kegiatannya menuntut ilmu:

Di dalam usahanya menuntut ilmu as-Sayuthi telah mendatangi syeikh
Safuddin Al-Hanafi dan berulangkali mengkaji kitab Al-Mukasyaf dan At-
Taudhih. Ia pernah pula dikirim orang tuanya mengikuti majelis yang
diselenggarakan oleh al-Hafidz ibnu Hajar, dan mengkaji shahih Muslim
sampai hampir tamat. Kepada ash-Shyairafi di samping kita-kitab lain
seperti As Syifa’, Al-Fiyah ibnu Malik, Syarh-Asyudur, al Mughni - sebuah
kitab Ushul Fiqh Mazhab Hanafiyah dan syarhnya pada Syams al-
Marzabani al-Hanafi, dan mendengarkan pengajian kitab al-Mutawassith
serta as-Safiyah berikut syarhnya yang ditulis oleh al-Jarudi yang
disampaikan oleh ulama ini. Selain itu, juga mempelajari Alfiah karya al-
‘Iraqi, dan menghadiri pengajian ilmiah yang diberikan al-Balqini. Dari
ulama yang disebut terakhir itu, as-Sayuthi menyerap ilmu yang tidak
terhingga jumlahnya. Sesudah itu ia tinggal bersama asy-Syaraf al-
Manawi, hingga ulama ini meningggal dunia. Dari ulama ini as-Sayuthi
menimba ilmu yang tidak terbilang juga banyaknya. Lalu secara tetap
pula mengikuti pengajian yang diberikan oleh Saifudin muhammad bin
muhammad al-Hanafi, serta pengajian-pengajian yang diberikan oleh al-
'alamah asy-Syamani dan al-Kafiji.

Kendatipun demikian, ia tetap mengatakan bahwa ia tidak banyak
mempelajari ilmu-ilmu riwayat, melebihi perhatiannya terhadap masalah
yang dianggapnya paling penting dalam disiplin ilmu ini, yakni ilmu
dirayah hadits.

Guru, murid dan sejawatnya: 

as-Sayuthi mengakui sekitar seratus lima puluhan orang ulama sebagai
gurunya, dan yang menonjol diantaranya adalah:
•  Ahmad zas-Syarmasahi 
•  'Umar al-Balqini 
•  Shalih bin Umar bin Ruslan al-Balqini 
•  Muhyidin al-Kafiji 
•  Al-Qadhi syarafudin al-Manawi 
Sementara itu beribu-ribu orang telah pula berguru  kepada dirinya, dan
diantara mereka yang paling menonjol antara lain:
•  Syamsudin asy-sakhawi.
•  'Ali al-Asymuni.
 
Akidahnya: 

Dari karangan-karangan yang membela para sahabat dan tetap berpijak
pada sunnah, maka tampaklah bahwa mazhab yang dipilihnya adalah
mazhab ahlus sunnah. Tidak ada hal lain yang dapat  diketahui tentang
dirinya dalam persoalan ini, selain kecendrungannya kepada tasawuf yang
telah dirintis oleh kakek buyutnya Hamam.

Kendatipun demikian, ilmunya yang demikian mendalam tentang Al-Qurn
dan sunnah, telah mampu membentengi dirinya dari penyimpangan-
penyimpangan yang banyak dialami oleh para pengikut aliran sufi, yang
jauh menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah. 
 
Pengaruh intelektualitasnya: 

Begitu usianya menginjak 40 tahun, ia segera mengasingkan diri dari
keramaian, dan menunjukkan perhatian dalam bidang karang-mengarang,
sehingga hanya dalam waktu  22 tahun saja ia telah  membanjiri
perpustakaan-perpustakaan Islam dengan karya-karyanya dalam berbagai
bidang, ilmu dalam jumlah sekitar 600 judul, semisal tafsir dan ilmu tafsir,
Hadits dan ilmu Hadits, Fiqh dan Ushul Fiqh, bahasa Arab dengan berbagai
cabang ilmunya, sirah Nabawiyah, dan Tarikh.

Penullis hidayah al-A’rifin mengemukakan sejumlah besar karangan yang
telah ditulis oleh asy-Sayuthi yan jumlahnya mendekati apa yang kami
sebutkan itu, yang diakui kebenarannya oleh yang bersangkutan.

Cukuplah sekiranya di sini bisa kami sebutkan saja  beberapa diantara
karya-karyanya yang paling menonjol dalam ilmu Hadits lantaran
kaitannya yang demikian erat dengan topik kajian  kita sekarang ini. 
Pertama: tentang Hadits
•  Zahr ar-Rabbiy “Ala Mujtaba Li an-Nasa’i 
•  Al-Hawalik ‘Ala Muwaththa’ Malik.
•  Marqat ash-Shu’ud Syarkh Sunan Abi Dawud.
•  Jam’u aljawami’ Aw al-jami’ al-Kabir.
•  al-Jami’ ash-Shaghir wa Dzailuh.
Kedua: Dalam ilmu Hadits.
•  Tadrib ar-Rawi bi syarkh Tawqrib an-Nawawi.
•  Al al-fiyah fi al-Hadits.
•  As’af al-mabtha’ bi Rijal al-Muhtha’.
•  Durr as-sahabah Fi Man Nazal al-Nishir Min al shahabah.
•  Natsr al-“Abir fi Takhrij Ahadits asy-syarkh al-Kabir
 
Wafatnya: 

Hidup syaikh as-syayuthi sarat dengan kegiatan menghimpun ilmu dan
mengarang. Untuk itu ia mengeram dirinya di rumah dalam kamar khusus
yang di sebut Raudhah al-Miqyas dan hampir-hampir tidak beranjak dari
situ. Ia terus menerus terlibat dalam hal ini hingga akhir hayatnya
sesudah menderita sakit dan kelumpuhan total pada tangan kirinya
selama seminggu. Nampaknya karena sakit yang di derita inilah ia lalu
meninggal dunia pada hari kamis, 19 Jumadil Ula 911 H di tempat
kediamannya, lalu dimakamkan di Hausy Qousun.

Dikutip dari: Proses lahirnya sebuah Hadits karya: Al-Hafizh Jalauddin as-Sayuthi, hal:41-45. Penerbit: PUSTAKA, Bandung, 1406 H – 1985 M.
Logged
Pages: [1]   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: